Dari sekian ribu candi itu yang dimiliki Indonesia, yang paling dikenal adalah Candi Borobudur atau Prambanan di Magelang, Jawa Tengah. Namun berbicara soal candi, nyatanya masih banyak candi lain di Indonesia yang menarik dan unik.

Scroll untuk baca artikel
Tutup Iklan

Salah satunya adalah Candi Brahu di Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur. Candi Brahu merupakan salah satu candi yang terletak di dalam kawasan situs arkeologi Trowulan, bekas ibu kota Majapahit.

Lokasi tepatnya Candi Brahu berada di Dukuh Jambu Mente, Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, atau sekitar dua kilometer ke arah utara dari jalan raya Mojokerto—Jombang.

Apa yang menarik dari Candi Brahu di Trowulan? Beberapa kalangan menyebut bahwa candi ini lebih tua dari candi-candi lain yang ada di sekitar Trowulan, bahkan lebih tua dari Kerajaan Majapahit.

Kata ‘brahu’ yang disematkan pada candi itu diduga berasal dari kata wanaru atau warahu. Nama itu didapat dari sebutan sebuah bangunan suci yang disebut dalam Prasasti Alasantan.

Prasasti itu sendiri ditemukan tak jauh dari Candi Brahu. Dengan begitu, ‘brahu’ pun bisa diartikan sebagai bangunan suci.

Candi Brahu juga dipercaya digunakan sebagai tempat pembakaran jenazah raja-raja di era Mataram Kuno. Lebih tepatnya, di bagian tengah candi yang berlubang.

Baca Juga:  Tradisi Seba Baduy, Seribu Lebih Warga Akan Turun Gunung ke Kota

Namun cerita rakyat lainnya membantah itu. Jenazah tidak dibakar di situ, melainkan dibakar di tempat lain. Baru setelah dibakar, abu jenazah dibawa ke ‘brahu’ untuk disucikan, sebelum akhirnya dilarung.

Sayangnya saat diteliti ulang tidak ditemukan adanya bukti autentik kalau Candi Brahu pernah menjadi tempat pembakaran mayat. Cerita yang menguatkan candi itu sebagai tempat pembakaran mayat justru dari nama tempat itu.

Di mana, Brahu dianggap berasal dari ‘bra’ yang berarti brawijaya atau raja dan ‘hu’ berarti abu. Jadi Brahu dinilai memiliki arti ‘abu raja’. Kisah lain menyebutkan bahwa nama Brahu tercipta ketika candi ditemukan. Dasarnya, ketika ditemukan plakat atau prasasti karangan Mpu Sindok yang dibuat sekitar 939 Masehi.

Prasasti tembaga ‘Alasantan’ itu ditemukan kira-kira 45 meter di sebelah barat Candi Brahu. Prasasti ini dibuat pada tahun 861 Saka atau, tepatnya, 9 September 939 M atas perintah Raja Mpu Sindok dari Kahuripan.

Dalam prasasti itu disebutkan bahwa nama tempat tersebut adalah ‘warahu’ yang berarti tempat suci. Sehingga kemudian terciptalah nama Brahu. Apalagi, candi itu merupakan candi Buddha, yang didukung dengan penemuan arca-arca Buddha, saat pertama kali digali.

Dari sisi bangunan, candi Brahu berbeda dibandingkan candi-candi lainnya yang biasa ditemui. Candi Brahu adalah candi berbahan dasar batu bata.

Tidak itu saja, candi tersebut juga berbeda dengan Borobudur yang memiliki relief. Candi Brahu tidak dilengkapi dengan relief karena bahan dasarnya batu bata yang lebih sulit untuk dibuat relief.

Baca Juga:  Tradisi Seba Baduy, Seribu Lebih Warga Akan Turun Gunung ke Kota

Keunikan lain yang dimiliki candi ini adalah dari sisi bangunannya. Candi ini menghadap ke arah barat, berdenah dasar persegi panjang seluas 18×22,5 m dan dengan tinggi yang tersisa sampai sekarang mencapai sekitar 20 m.

Sebagaimana umumnya bangunan purbakala lain yang ditemukan di Trowulan, Candi Brahu memiliki bentuk tubuh yang bukan persegi tegas, melainkan bersudut banyak, tumpul, dan berlekuk. Bagian tengah tubuhnya melekuk ke dalam seperti pinggang.

Lekukan tersebut dipertegas dengan pola susunan batu bata pada dinding barat atau dinding depan candi. Atap candi juga tidak berbentuk prisma bersusun atau segi empat, melainkan bersudut banyak dengan puncak datar.

Kaki candi dibangun bersusun dua. Kaki bagian bawah setinggi sekitar 2 m, mempunyai tangga di sisi barat, menuju ke selasar selebar sekitar 1 m yang mengelilingi tubuh candi.

Dari selasar pertama terdapat tangga setinggi sekitar 2 m menuju selasar kedua. Di atas selasar kedua inilah berdiri tubuh candi. Di sisi barat, terdapat lubang semacam pintu pada ketinggian sekitar 2 m dari selasar kedua.

Mungkin dahulu terdapat tangga naik dari selasar kedua menuju pintu di tubuh candi. Namun kini, tangga tersebut sudah tidak ada lagi, sehingga sulit bagi pengunjung untuk masuk ke dalam ruangan di tubuh candi.

Konon ruangan di dalam cukup luas sehingga mampu menampung sekitar 30 orang. Susunan bata pada kaki, dinding tubuh, dan atap candi diatur sedemikian rupa sehingga membentuk gambar berpola geometris maupun lekukan-lekukan yang indah.

Baca Juga:  Tradisi Seba Baduy, Seribu Lebih Warga Akan Turun Gunung ke Kota

Candi Brahu mulai dipugar pada 1990 dan selesai pada 1995. Menurut masyarakat di sekitarnya, tidak jauh dari Candi Brahu dahulu terdapat beberapa candi lain, seperti Candi Muteran, Candi Gedong, Candi Tengah, dan Candi Gentong. Tapi sekarang, kesemua candi itu sudah tidak terlihat.

Ada pendapat yang mengatakan bahwa Candi Brahu lebih tua dibandingkan candi lain yang ada di sekitar Trowulan. Disebut-sebut candi itu berdiri pada abad ke-15. Di sekitar kompleks candi pernah ditemukan benda-benda kuno lain, seperti alat upacara dari logam, perhiasan dan benda-benda lain dari emas, serta arca-arca logam yang kesemuanya menunjukkan ciri-ciri ajaran Buddha, sehingga ditarik kesimpulan bahwa Candi Brahu merupakan candi Buddha.

Walaupun tak satupun arca Buddha yang didapati di sana, gaya bangunan serta sisa profil alas stupa yang terdapat di sisi tenggara atap candi menguatkan dugaan bahwa Candi Brahu memang merupakan candi Buddha.

Sebagai informasi dan perlu diketahui pembaca, Candi Brahu adalah sebuah candi bercorak Buddha yang diperkirakan sudah ada sebelum keberadaan Kerajaan Majapahit, sebuah kerajaan bercorak Hindu. Trowulan sendiri adalah bekas ibu kota dari Kerajaan Majapahit.

Menarik bukan Candi Brahu ini. Yuk kita kunjungi candi Buddha di yang eksis tengah budaya Hindu itu. (Firman Hidranrman Hidranto

Redaktur: Ratna Nuraini/Elvira Inda Sari