Radarnesia.com – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melontarkan ancaman keras terhadap Iran di tengah gelombang protes yang berujung bentrokan mematikan antara demonstran dan aparat keamanan. Melansir France24, Trump memperingatkan Iran akan ‘dihantam sangat keras’ oleh Amerika Serikat jika jumlah korban tewas akibat penindakan terhadap demonstran bertambah.
“Kami memantau ini dengan sangat ketat. Jika mereka mulai membunuh orang seperti yang pernah terjadi sebelumnya, saya rasa mereka akan dihantam sangat keras oleh Amerika Serikat,” kata Trump kepada wartawan di Air Force One, dikutip dari France24, Senin, 5 Januari 2026.
Pernyataan itu disampaikan pada Minggu, 4 Januari 2025 waktu setempat, sehari setelah operasi Amerika Serikat untuk menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro—sekutu Teheran. Di Iran, demonstrasi yang dipicu kemarahan atas kenaikan biaya hidup memasuki pekan kedua, dengan aksi awal disebut bermula dari mogok pedagang di Teheran pada 28 Desember.
Melansir France24, sedikitnya 12 orang tewas sejak rangkaian protes dimulai. Korban disebut termasuk anggota aparat keamanan.
Pemantau Human Rights Activists News Agency (HRANA) berbasis di Amerika Serikat melaporkan aksi semalam yang memuat seruan kritik terhadap otoritas ulama Republik Islam terjadi di Teheran, Shiraz di selatan, serta sejumlah wilayah Iran bagian barat—area yang disebut menjadi pusat konsentrasi gerakan.
Gelombang demonstrasi kali ini dinilai sebagai yang paling signifikan sejak gerakan 2022–2023 yang dipicu kematian Mahsa Amini dalam tahanan. Amini disebut ditangkap karena diduga melanggar aturan berpakaian ketat bagi perempuan di Iran. Namun, skala protes terbaru disebut belum menyamai gerakan 2022–2023, apalagi demonstrasi besar-besaran setelah pemilu presiden 2009 yang diperdebatkan.
Meski begitu, rangkaian aksi tetap menghadirkan tantangan baru bagi Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei—86 tahun, berkuasa sejak 1989—yang terjadi setelah perang 12 hari dengan Israel pada Juni. Perang itu disebut merusak infrastruktur nuklir dan menewaskan tokoh-tokoh kunci di jajaran elite keamanan.
Di tengah tekanan publik agar pemerintah merespons kesulitan ekonomi, juru bicara pemerintah Fatemeh Mohajerani menyampaikan kepada televisi pemerintah bahwa warga akan menerima tunjangan bulanan setara US$7 selama empat bulan ke depan.
Sementara itu, bentrokan mematikan kembali muncul dari wilayah barat. Kelompok hak asasi Hengaw yang berbasis di Norwegia menyebut Garda Revolusi menembaki para demonstran di wilayah Malekshahi, Provinsi Ilam, pada Sabtu dan menewaskan empat orang dari minoritas Kurdi.
Hengaw juga menyatakan tengah memeriksa laporan bahwa dua orang lainnya tewas, serta menyebut ada puluhan orang terluka. Kelompok itu menuding aparat menggerebek rumah sakit utama di Kota Ilam untuk menyita jenazah para demonstran.
Organisasi Iran Human Rights, yang juga berbasis di Norwegia, melaporkan angka kematian yang sama: empat orang tewas dan 30 orang terluka setelah aparat keamanan menyerang protes di Malekshahi. Organisasi tersebut menyebut pemakaman digelar pada Minggu, dengan pelayat meneriakkan slogan menentang pemerintah dan Khamenei.
Media Iran, di sisi lain, melaporkan seorang anggota pasukan keamanan tewas dalam bentrokan dengan pihak yang mereka sebut “perusuh” saat mencoba menyerbu kantor polisi. Laporan itu juga menyebut “dua penyerang” tewas.
Di Teheran, kantor berita Fars melaporkan demonstrasi sporadis pada Sabtu malam di distrik-distrik wilayah timur, barat, dan selatan. Pada Minggu, mayoritas toko di ibu kota disebut tetap buka, meski jalanan tampak lebih sepi dari biasanya. HRANA mencatat sedikitnya 582 orang ditangkap sepanjang sepekan terakhir.
Aksi solidaritas juga muncul di luar negeri. Ratusan orang dilaporkan menggelar dua unjuk rasa terpisah di Paris pada Minggu, 4 Januari 2025, untuk mendukung para demonstran di Iran, menyusul aksi serupa di London sehari sebelumnya.









