Radarnesia.com – Pemerintah terus mempercepat pemulihan akses darat ke wilayah terdampak bencana hidrometeorologi di Kabupaten Aceh Tengah. Hingga pertengahan Januari 2026, sebanyak 24 desa di lima kecamatan masih mengalami keterisolasian akibat banjir bandang dan tanah longsor yang terjadi pada akhir November 2025.

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah Aceh Tengah, desa-desa yang masih terisolasi tersebar di Kecamatan Bintang, Ketol, Silih Nara, Rusip Antara, dan Linge, dengan total 10.914 jiwa terdampak.

“Akses darat menjadi tantangan utama karena longsor dan putusnya sejumlah jembatan. Penanganan dilakukan bertahap agar mobilitas dan distribusi logistik dapat segera normal,” ujar Juru Bicara Posko Penanganan Bencana Banjir dan Longsor Aceh Murthalamuddin, Kamis.

Kecamatan Ketol menjadi wilayah dengan jumlah desa terisolasi terbanyak, yakni sembilan desa: Bergang, Karang Ampar, Pantan Reduk, Serempah, Bah, Bintang Pepara, Buge Ara, Kekuyang, dan Burlah. Sebanyak 4.951 jiwa di wilayah ini terdampak akibat jembatan terputus dan longsor yang menutup badan jalan.

“Beberapa desa seperti Serempah dan Bah sudah bisa dilalui kendaraan roda dua, namun kendaraan roda empat masih belum dapat melintas,” jelas Murthalamuddin.

Di Kecamatan Bintang, satu desa yakni Serule masih terisolasi dengan 582 jiwa terdampak, akibat timbunan longsor yang menutup total akses jalan. Sementara di Kecamatan Silih Nara, dua desa—Terang Engon dan Bius Utama Dusun Gantung Langit—belum dapat diakses karena putusnya Jembatan Mulie dan Jembatan Gantung Langit, berdampak pada 254 jiwa.

Kondisi serupa terjadi di Kecamatan Rusip Antara, di mana lima desa masih terisolasi dengan total 2.765 jiwa terdampak. Akses roda dua mulai terbuka di beberapa titik, namun kendaraan roda empat masih terhambat longsor dan kerusakan jembatan.

Adapun Kecamatan Linge mencatat tujuh desa yang belum terhubung penuh, yakni Linge, Kute Reje, Delung Sekinel, Jamat, Reje Payung, Penarun, dan Umang. Sebanyak 2.362 jiwa terdampak akibat putusnya Jembatan Kala Ili serta longsor di sejumlah ruas jalan.

“Akses roda dua baru bisa mencapai Penarun dan Umang. Kendaraan roda empat masih belum dapat melintas,” kata Murthalamuddin.

Pemerintah daerah bersama unsur terkait terus mengintensifkan penanganan darurat, termasuk pembukaan jalur darat sementara, pembersihan longsor, dan perbaikan jembatan untuk memulihkan konektivitas antarwilayah.

“Prioritas kami adalah membuka kembali akses agar aktivitas warga, layanan dasar, dan distribusi bantuan dapat berjalan normal, terutama di desa-desa yang hingga kini masih terisolasi,” pungkas Murthalamuddin.

Upaya percepatan pemulihan ini menjadi bagian dari komitmen pemerintah untuk memastikan tidak ada warga yang tertinggal dalam proses pemulihan pascabencana di wilayah pedalaman Aceh Tengah.