Scroll untuk baca artikel
Nusantara

Opini: Kopi Pahit (3), Politik di Meja Domino “Mau Enak-Enak Untuk Menang”

×

Opini: Kopi Pahit (3), Politik di Meja Domino “Mau Enak-Enak Untuk Menang”

Sebarkan artikel ini
Opini: Kopi Pahit (3), Politik Di Meja Domino &Quot;Mau Enak-Enak Untuk Menang&Quot;

Oleh: Hery FR

SEPERTI biasanya setiap akhir pekan beberapa anggota Tim Bravo 17 sebagai kominitas pecinta domino melaksanakan “Ritual” pertandingan tipis-tipis dengan hukuman bagi yang kalah menggunakan helm.

Scroll untuk baca artikel
Tutup Iklan

Sabtu siang 02 Juni 2024 pada Batch 1 (Baca: Sudah Isoma), empat orang pemain ; Letkol Inf (purn) Firdaus, Mohammad Mansyur, Dedy Zamora dan Saya sendiri mulai mencoba berbagai strategi untuk dapat mengalahkan lawan domino lainnya dalam batch 1 tersebut.

Prinsipnya dalam permainan tersebut tidak ada teman sejati dan musuh abadi semua sesuai dengan kepentingan untuk kemenangan dan menjatuhkan lawan.

Sebagai penghangat dalam permainan tersebut ada narasi-narasi yang dibangun mulai dari obrolan lucu hingga provokasi lawan.

Disinilah mungkin ada korelasi Pilkada dan permainan domino meski tak sepenuhnya sama, tapi dalam permainan domino dan pilkada ada upaya-upaya menjatuhkan lawan dan memenangkan kompetisi, dibutuhkan strategi, dan narasi-narasi.

Ditemani kopi pahit dan makanan ringan (cost politik), pada putaran permainan kedua terjadi persaingan skor yang saling kejar-kejaran (hasil survey), dan muncul narasi-narasi candaan tapi mengandung propaganda untuk membangun koalisi dengan tiga pemain lainnya.

Kebetulan pada permainan putaran ketiga kondisi buah yang dimiliki penulis cukup mulus dan merepotkan Mohammad Mansyur.

Dalam upayanya mementahkan permainan penulis, dengan strategi yang matang sebagai “pemain lama” sambil menghempas buah yang menutupi serangan penulis, dengan hempasan kecil menutupi buah kedua dari Dedy Zamora muncul narasi “Mau Enak-enak” .

Ternyata dengan strategi dan perhitungan yang pas dan narasi “Mau Enak-enak” dapat mementahkan serangan dan membagun koalisi dari dua pemain lainnya.

Dan dalam Pilkada “Mau Enak-enak” , akan menjadi ancaman yang akan dimentahkan lawan dan juga menjadi peluang terbangun koalisi-koalisi.

Sudah saatnya, para Cakada mewaspadai narasi “Mau Enak-enak” (terjemahan bebas).

Dan tidak ada salahnya masyarakat sebagai penyangga utama dari demokrasi jangan terjebak dengan program-program pragmatis sebagai janji Politik “Mau Enak-Enak”.

Masih ada waktu hingga “Enak-enak” untuk melihat program para kandidat yang akan berkompetisi pada Rabu 27 November 2024 mendatang.

Dan satu hal penting dalam proses demokrasi harus terus terbangun suasana kegembiraan meski beda strtegi dan pilihan. Jadikan semuanya “Enak-enak”.

Penasaran juga rasanya mengapa ada korelasi yang terbangun antara pilkada dan domino? Ternyata memang permainan domino ini tercipta dari lingkaran kekuasaan pada masa tiongkok kuno.

Melansir Pagat.com, sejarawan percaya bahwa penciptanya adalah Keung T’ai Kung di abad ke-12 SM.

Sedangkan, catatan sejarah lain menunjukkan bahwa penemunya adalah Hung Ming (181-234 M).

Ia menciptakan permainan ini agar prajuritnya tetap terjaga di malam hari di kamp untuk mengawasi musuh.

Ada pula yang mengatakan kalau permainan ini ditemukan di Tiongkok pada tahun 1120 M oleh seorang negarawan. Kemudian, orang ini menyerahkan permainannya ke Kaisar Hui Tsung lalu diedarkan ke luar negeri atas perintah kekaisaran.

Thehok
3 Juni 2024

Hery FR (Wartawan Utama/Asri Media Group)