Scroll untuk baca artikel
Politik

Opini : Membaca Pilgub Jambi 2024 (2)

×

Opini : Membaca Pilgub Jambi 2024 (2)

Sebarkan artikel ini
Opini : Membaca Pilgub Jambi 2024 (2)

Ditulis Oleh
Musri Nauli

RADARNESIA.COM – Banyak spekulasi membaca pilgub Jambi 2024. Sebagian masih meraba-raba arah dukungan partai politik. Sebagian lagi memastikan nama-nama yang beredar akan mengikuti kontestasi politik.

Scroll untuk baca artikel
Tutup Iklan

Tidak dapat dipungkiri, nama-nama seperti Al Haris (Gubernur Jambi), Romi Hariyanto (Bupati Tanjung Jabung Timur) menjadi pembicaraan publik. Selain itu terdengar juga nama-nama seperti Mashuri (Bupati Bungo) dan Safrial (Mantan Bupati Tanjung Jabung Barat). Dan Abdullah Sani (Wakil Gubernur Jambi) dan Sutan Adil Hendra ((SAH/Ketua DPD Partai Gerindra Jambi) sebagai kandidat Wakil Gubernur Jambi.

Belum lagi juga disebut-sebut Cek Endra (Mantan Bupati Sarolangun) dan Sy Fasha (Mantan Walikota Jambi)

Selain SAH, kesemuanya pernah menjadi Kepala Daerah. Al Haris (Bupati Merangin), Romi (Bupati Tanjabtim), Mashuri (Bupati Bungo) dan Safrial (Bupati Tanjabbar), Cek Endra (Mantan Bupati Sarolangun) dan Sy Fasha (Mantan Walikota Jambi). Sedangkan Abdullah Sani (mantan Wakil Walikota Jambi).

Secara administrasi Al Haris dan Abdullah Sani yang sudah mendapatkan kepastian rekomendasi Partai Politik. PAN dan PPP cukup modal untuk mendaftarkan ke KPU.

Namun partai-partai besar belum memberikan dukungan dan arah politik. PDIP, Partai Golkar, Partai Gerindra belum memberikan rekomendasi secara tertulis. Begitu juga PKS dan PKB.

Partai-partai ini dapat menyiapkan dua orang kandidat yang memenuhi persyaratan untuk mengikuti pilkada Jambi 2024.

Melihat belum memberikan kepastian rekomendasi secara tertulis maka peta Pilgub Jambi 2024 belum bisa dipastikan siapa yang akan maju mengikuti kontestasi politik. Sehingga sampai pendaftaran dimulai ke KPU, berbagai analisis dan skenario politik dapat saja terjadi.

Namun yang menarik adalah beredarnya berbagai nama-nama yang disebut-sebutkan didalam berbagai nuansa politik di Jambi.

Selain SAH, kesemuanya adalah kepala daerah/Wakil Kepala Daerah. Sehingga disebutkan nama-nama Kepala daerah/wakil Kepala daerah mematahkan mitos sekaligus mementahkan pandangan dari pengamat yang menyebutkan Jambi telah terjadinya krisis kepemimpinan.

Selain itu, nama-nama yang beredar yang memegang posisi sebagai Kepala daerah/Wakil Kepala daerah juga sebagai ketua Partai di Jambi.

Prestasi sebagai Kepala Daerah juga telah dibuktikan dengan mampu menempatkan partai yang dipimpinnya mempunyai suara yang signifikan. Bahkan mampu mengirimkan setiap wakil dari setiap Partai untuk melenggang ke senayan.

Prestasi sebagai Kepala daerah yang kemudian dilanjutkan dan dibuktikan sebagai Ketua Partai yang prestasinya tidak boleh diremehkan justru memperkuat argumentasi, kaderisasi kepemimpinan dan setiap partai mampu menyediakan stok kepemimpinan untuk Pilgub Jambi 2024.

Sehingga tidak salah Pilgub Jambi 2024 adalah kontestasi Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah sekaligus sumbangan kepemimpinan dari Partai politik.

Sehingga tidak tepat bahkan terlalu naif ketika menyebutkan Pilgub Jambi 2024 dinyatakan sepi dan terjadinya krisis kepemimpinan.

Kembali ke Pilgub Jambi 2024, Pilgub Jambi 2024 adalah mengulangi kontestasi Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah tahun 2020.

Tahun 2020, Al Haris (Bupati Merangin), Cek Endra (Bupati Sarolangun) dan Fachori Umar (Wakil Gubernur). Begitu juga HBA (Bupati Sarolangun) dan Zumi Zola (Bupati Tanjabtim) tahun 2015.

Apabila mau ditarik ke tahun 2010, justru Pilgub Jambi bertaburan nama-nama Kepala Daerah. Seperti Zulfikar Ahmad (Bupati Bungo), HBA (Bupati Sarolangun), Abdul Madjid Muaz (Bupati Tebo), Abdullah Hich (Bupati Tanjabtim) dan Safrial (Bupati Tanjabbar).

Sehingga tidak salah kemudian Pilgub Jambi adalah tempat penyediaan stok kepemimpinan dari daerah.

Dengan demikian apabila membaca Pilgub Jambi harus dimaknai sebagai suksesi Kepala Daerah yang disediakan dari berbagai kepala daerah di berbagai daerah di Jambi.

Dan sama sekali Jambi tidak krisis kepemimpinan. Baik disumbangkan dari Kepala daerah di berbagai daerah di Jambi maupun sumbangan kader kepemimpinan dari Partai politik.