Radarnesia.com – Pemerintah mengarahkan produksi dan pemasaran sepeda motor nasional dengan memfokuskan motor listrik (molis) untuk kebutuhan domestik, sementara motor berbasis bahan bakar minyak (BBM) atau konvensional untuk pasar ekspor.

Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan pemerintah saat ini sedang menyiapkan regulasi untuk mendukung percepatan adopsi kendaraan listrik, khususnya sepeda motor.

“Pemerintah sedang menyiapkan regulasi di mana nanti produsen-produsen motor listrik yang sudah ada di Indonesia itu segera menyiapkan secukupnya produksi motor listrik, karena kita menginginkan semua penjualan motor listrik yang berasal dari pabrik-pabrik kita untuk pasar domestik itu melalui motor listrik,” ucap Agus seperti dikutip dari Antara, Jumat, 10 April 2026.

Sementara itu, produksi motor berbasis konvensional tidak akan dihentikan, melainkan diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pasar ekspor, terutama ke kawasan nontradisional.

“Sementara motor-motor yang basisnya masih konvensional itu tetap mereka bisa untuk memproduksi, nanti kita arahkan untuk produk ekspor, baik itu ke negara-negara lain, khususnya di negara-negara mungkin Afrika maupun Middle East maupun Amerika Selatan,” urai dia.

Upaya Adaptasi Dengan Perubahan Teknologi Menuju Elektrifikasi

Agus menegaskan kebijakan ini tidak hanya menjaga keberlangsungan industri, tetapi juga mengupayakan pelaku usaha untuk beradaptasi dengan perubahan teknologi menuju elektrifikasi.

“Jadi tidak perlu menyetop produksi motor berbasis konvensional karena itu nanti kita arahkan untuk ekspor, tapi sudah harus dimulai pembuatan kapasitas untuk memproduksi motor-motor listrik. Karena semua nanti kita sedang bikin roadmap-nya seluruh motor listrik yang beredar di Indonesia yang dipakai oleh konsumen itu semuanya berbasis listrik. Tiongkok sudah berhasil, Tiongkok sudah basisnya semua motor listrik,” kata dia.

Ia menyampaikan pula arahan Presiden menegaskan seluruh kendaraan ke depan akan berbasis listrik, seiring semakin pentingnya upaya mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.

“Ya, karena memang sekarang semakin kelihatan kepentingannya untuk itu, untuk mengurangi ketergantungan kita terhadap bahan bakar fosil. Jadi memang tidak ada pilihan lain kita harus convert ke listrik,” sebut dia.

Lebih lanjut, ia menyampaikan terkait insentif motor listrik, saat ini pihaknya sudah melakukan komunikasi dengan Kementerian Keuangan, serta menekankan besaran insentif masih dalam pembahasan. “Masih dibicarakan,” kata Agus.