Radarnesia.com – Harga minyak mentah Amerika Serikat (AS) jenis West Texas Intermediate (WTI) mengalami kenaikan tajam pada perdagangan Kamis, 15 Oktober 2026. Kenaikan ini dipicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap potensi gangguan pasokan minyak dunia menyusul serangan terhadap kapal yang melintasi Selat Hormuz.

Minyak WTI untuk kontrak pengiriman November 2026 tercatat melonjak sekitar 3 persen atau bertambah US$ 2,88 per barel. Dengan kenaikan tersebut, harga minyak acuan AS ini ditutup pada level US$ 97,97 per barel.

Pergerakan harga tersebut menunjukkan meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap keamanan jalur distribusi minyak global. Serangan terhadap kapal yang melintasi Selat Hormuz dinilai berpotensi mengganggu kelancaran pengiriman energi dan memengaruhi keseimbangan pasokan di pasar internasional.

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran strategis bagi perdagangan minyak dunia. Gangguan keamanan di kawasan tersebut dapat meningkatkan risiko distribusi, mendorong biaya pengiriman, serta memicu perubahan harga minyak mentah.

Di tengah penguatan WTI, harga minyak mentah Brent justru bergerak berlawanan arah. Minyak Brent untuk kontrak pengiriman Desember 2026 turun sebesar US$ 0,14 per barel menjadi US$ 105,92 per barel pada perdagangan yang sama.

Perbedaan pergerakan kedua acuan minyak tersebut memperlihatkan bahwa pasar energi dapat merespons berbagai faktor secara berbeda. Selain risiko geopolitik, pelaku pasar juga mempertimbangkan kondisi pasokan, permintaan global, serta perkembangan perdagangan energi internasional.

Kenaikan harga WTI menjadi perhatian karena perubahan harga minyak mentah dapat berdampak pada berbagai sektor ekonomi. Harga energi berpengaruh terhadap biaya transportasi, distribusi barang, hingga pengeluaran industri yang bergantung pada bahan bakar.

Meski demikian, arah pergerakan harga minyak selanjutnya masih bergantung pada perkembangan situasi keamanan di Selat Hormuz dan respons pasar terhadap potensi gangguan pasokan.

Pelaku pasar akan mencermati perkembangan di kawasan tersebut untuk memperkirakan dampaknya terhadap kelancaran pengiriman minyak dan stabilitas harga energi dunia.