Scroll untuk baca artikel
Nasional

Cerita M Shabilla Alhaqim, Anak Pengembala Sapi yang Jadi Prajurit TNI

×

Cerita M Shabilla Alhaqim, Anak Pengembala Sapi yang Jadi Prajurit TNI

Sebarkan artikel ini

RADARNESIA.COM – Rasa bangga dan terharu tersirat dari raut wajah Prada Muhammad Shabilla Alhaqim. Bersama 115 orang lainnya, pria yang akrab dipanggil Shabilla itu dilantik menjadi prajurit Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD) berpangkat Prada oleh Kasdam II/Swj Brigjen TNI Ruslan Effendy.

Prada Shabilla merupakan seorang anak kuli bangunan dan pengembala sapi dari Bangka Barat yang berhasil mewujudkan cita-citanya menjadi prajurit TNI AD.

Dalam rilis pada Jumat (15/3/2024), Kapendam II/Swj Kolonel Arh Saptarendra P, mengungkapkan untuk menjadi tentara, Shabilla yang merupakan lulusan SMK jurusan mesin itu telah mengikuti seleksi sebanyak dua kali.

“Meski pernah gagal, berkah usaha yang gigih ditambah doa dan restu orang tuanya, dia berhasil lulus seleksi dan mewujudkan cita-citanya menjadi abdi negara sebagai prajurit TNI AD,” ungkap Sapta.

Kapendam II/Swj melanjutkan, bahwa ayah dari Shabilla adalah pekerja serabutan, jadi kuli bangunan dan mengembala sapi di kampungnya, sedangkan ibunya hanya ibu rumah tangga.

Baca Juga:  BMKG Keluarkan Peringatan Cuaca Ekstrem untuk 27 Daerah di Indonesia

Sementara itu, Shabilla dalam keterangannya menyampaikan bahwa motivasi dirinya untuk menjadi prajurit TNI yaitu untuk membanggakan orang tua. “Kami berasal dari keluarga yang sederhana ingin menjadi abdi negara,” ujar Shabilla di samping ayahnya yang terlihat sesekali menyeka air mata.

Keinginan kuat pria lulusan SMKN 2 Sragen untuk menjadi tentara karena inspirasi sejak masih kecil. “Tentara itu, gigih, tangguh dan pemberani. Sejak SD saya aktif organisasi supaya nanti terbiasa apabila ingin jadi tentara,” kata Shabillah mengisahkan masa kecilnya.

Baca Juga:  Pilot dan CoPilot Batik Air Tertidur, Kemenhub Berikan Teguran Keras dan Akan Lakukan Investigasi

Ahmad Purwadi dan Nurniasih, orang tua Shabillah larut dalam keharuan sang anak. Mereka pun mengucap syukur alhamdulillah kepada Tuhan Yang Maha Esa. ‚ÄúDari dulu, saya bercita-cita anak saya menjadi anak yang berguna bagi bangsa dan negara, agama serta keluarga,” tuturnya.