Radarnesia.com – Saat banjir dan longsor melanda sejumlah wilayah di Aceh, para wartawan di Banda Aceh harus bekerja dalam kondisi yang serba terbatas.

Listrik sering padam, jaringan internet hilang-timbul, sementara kebutuhan informasi justru kian mendesak. Dalam suasana serba tak menentu itu, sebuah ruangan di lobi Gedung Sekretariat Daerah Provinsi Aceh menjadi tempat mereka bertumpu.

Ruangan tersebut adalah Media Center Posko Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi Aceh 2025, yang disiapkan oleh Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia (Kemkomdigi RI).

Media Center ini sendiri menyediakan Wi-Fi berbasis Starlink, laptop yang tersambung ke sistem Satu Data Aceh, hingga minuman dan camilan—fasilitas sederhana yang terasa sangat berarti ketika jaringan kota beberapa kali tumbang.

Namun fasilitas bukan satu-satunya hal yang membuat ruangan ini penting. Media Center menjadi tempat aliran informasi paling stabil di Aceh saat bencana berlangsung.

Setiap data mutakhir—mulai dari status real-time Base Transceiver Station (BTS) aktif dan tidak aktif yang dimonitor Balai Monitoring (Balmon), hingga perkembangan banjir dan longsor—ditayangkan di layar besar dan diperbarui setiap jam, bahkan setiap detik. Semua konferensi pers posko juga disiarkan langsung di ruangan itu.

Menurutnya, keberadaan ruangan ini mencegah potensi informasi simpang siur yang biasanya mudah muncul saat kondisi darurat.

“Selama ada Media Center, kita tidak bakal mendapat berita yang simpang siur. Kita butuh validitas, ujarnya.

Ia menyebutkan, laporan dari lapangan kini bisa langsung dipadukan dengan data resmi yang terpampang di layar yang telah disiapkan di Media Center.

“Kita juga jadi tidak bingung. Setelah dapat bahan di lapangan, bisa langsung combine dengan data dari sini,” lanjutnya.

Media Center menjadi satu-satunya tempat kerja yang benar-benar stabil selama beberapa hari terakhir, di tengah kondisi pascabencana yang melanda sedikitnya 18 kabupaten/kota di Aceh dan turut berdampak pada Banda Aceh.

“Situasi Banda Aceh tidak menentu. Sinyal hilang, listrik mati. Tapi di sini semuanya tersedia. Ada laptop, Wi-Fi, bahkan snack. Jadi lebih nyaman,” katanya.

Baginya, Media Center bukan hanya ruang bekerja, tetapi juga memudahkan akses informasi. Jubir posko dan para pejabat terkait sering berada di lokasi, sehingga wartawan tidak perlu mencari atau menelepon berkali-kali.

“Tinggal datang, langsung bisa dapat keterangan,” ujarnya.

Kemkomdigi RI memang merancang Media Center sebagai pusat informasi dan ruang kerja media selama masa darurat. Pranata Humas Ahli Madya Kemkomdigi RI, Wiaji Cahyaningrum menjelaskan, bahwa fasilitas ini disiapkan agar mendapatkan akses cepat ke data resmi, akurat, dan telah diverifikasi.

Media Center juga berfungsi sebagai titik koordinasi lapangan bagi Komdigi, operator seluler, pemerintah daerah, dan berbagai pemangku kepentingan. Dari sinilah strategi perbaikan jaringan, penyaluran informasi, dan komunikasi publik dirumuskan setiap hari.

Di tengah bencana yang membuat banyak hal runtuh, Media Center Komdigi berdiri sebagai jantung informasi—tempat berita, data, dan keputusan bertemu sebelum akhirnya sampai kepada publik yang menunggu kepastian.