Radarnesia.com – Ketahanan energi nasional membutuhkan pasokan migas yang terjaga di tengah meningkatnya kebutuhan energi dan tantangan penurunan produksi dari lapangan-lapangan yang telah berusia matang. Sebagai salah satu kontributor utama produksi migas nasional, Pertamina Hulu Rokan (PHR) terus menjaga keberlanjutan produksi melalui optimalisasi lapangan eksisting, eksplorasi, dan pemanfaatan teknologi.
Eviyanti Rofraida, Corporate Secretary PHR mengatakan, posisi PHR sangat strategis dalam mendukung ketahanan energi nasional. Berdasarkan paparannya, produksi PHR Regional 1 berkontribusi hampir sepertiga produksi migas nasional.
“PHR itu KKKS (Kontraktor Kontrak Kerja Sama) dengan produksi terbesar. Kalau total produksi seluruh PHR Regional 1, hampir sepertiga produksi migas nasional. Itu menggambarkan betapa strategisnya posisi PHR,” ujar Eviyanti di sela Sosialisasi Kebijakan Energi, Akselerasi Kapasitas Publik dalam Pemahaman Kebijakan Energi Nasional dan Isu Strategis serta Cadangan Energi Nasional di Kampus Universitas Jambi, Rabu (23/9).
Peran tersebut menjadi semakin penting karena kebutuhan energi nasional terus berkembang, sementara sejumlah lapangan migas menghadapi tantangan alamiah berupa penurunan produksi seiring bertambahnya usia reservoir.
Karena itu, PHR menerapkan strategi berlapis untuk menjaga keberlanjutan produksi. Langkah pertama dilakukan dengan mempertahankan baseline production dari lapangan yang sudah beroperasi agar penurunannya dapat ditekan. Strategi tersebut kemudian diperkuat melalui pencarian sumber produksi baru dan pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan perolehan migas.
“Yang utamanya adalah memaintain baseline, bagaimana yang sudah ada ini kalaupun turun, decline-nya tidak jauh. Kalau bisa kita maintain tidak turun, kalaupun turun sedikit,” katanya.
Teknologi dan Eksplorasi Jadi Kunci
Upaya mempertahankan produksi tidak hanya dilakukan pada sumur dan lapangan yang telah berproduksi. PHR juga terus mengevaluasi potensi baru berdasarkan data yang tersedia serta melakukan eksplorasi untuk menemukan sumber daya yang dapat dikembangkan menjadi sumber produksi.
Pemanfaatan teknologi menjadi bagian penting dalam strategi tersebut. Berbagai pendekatan teknologi diterapkan untuk meningkatkan produktivitas lapangan dan mengoptimalkan cadangan yang tersedia. Di Jambi, salah satu proyek yang menjadi perhatian adalah Puspa Asri. Proyek tersebut diproyeksikan memberikan tambahan produksi yang memiliki arti strategis bagi Pertamina EP Jambi.
Pengembangan tersebut menunjukkan bahwa penguatan ketahanan energi tidak hanya bergantung pada penemuan lapangan baru, tetapi juga kemampuan industri untuk mengubah potensi sumber daya menjadi produksi secara efektif melalui teknologi dan inovasi.
Evi menegaskan, keberlanjutan produksi migas membutuhkan dukungan lintas pemangku kepentingan, termasuk pemerintah daerah dan perguruan tinggi. Dukungan tersebut diperlukan agar kegiatan operasi, eksplorasi, hingga pengembangan wilayah baru dapat berjalan secara aman dan berkelanjutan.
Indonesia Perlu Perkuat Cadangan Penyangga
Anggota Pemangku Kepentingan Dewan Energi Nasional (DEN), Muhammad Kholid Syeirazi mengatakan, langkah paling mendasar untuk memperkuat ketahanan energi adalah meningkatkan produksi energi, baik dari sumber fosil maupun nonfosil.
“Untuk meningkatkan ketahanan energi agar kita tidak bergantung kepada impor, tentu saja kita harus menambah produksi, baik yang fosil maupun nonfosil. Untuk minyak berarti meningkatkan lifting, begitu juga gas,” ujarnya.
Menurutnya, peningkatan produksi perlu berjalan beriringan dengan diversifikasi sumber energi. Pengembangan biodiesel, misalnya, menjadi salah satu instrumen untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor solar. Pemerintah juga tengah mendorong pengembangan etanol sebagai salah satu alternatif untuk kebutuhan bensin.
Dalam pengembangan biodiesel, penerapan B50 menjadi salah satu agenda besar. Namun, peningkatan bauran biodiesel membutuhkan kesiapan kapasitas produksi dan ketersediaan bahan baku atau feedstock. Karena itu, peningkatan produktivitas perkebunan menjadi salah satu opsi yang perlu diperkuat tanpa harus melakukan perluasan lahan secara signifikan.
“Tantangannya masih sangat besar. Produksi kita terus naik, tetapi jangan sampai kemudian B50 ini kekurangan feedstock. Kita harus memastikan target produksi untuk menopang B50 itu cukup,” katanya.
Ia menambahkan, penguatan ketahanan energi harus mempertimbangkan keseimbangan antara kebutuhan peningkatan produksi, keberlanjutan lingkungan, dan aspek ekonomi masyarakat. Dengan demikian, transisi dan diversifikasi energi tidak hanya berorientasi pada pemenuhan kebutuhan energi, tetapi juga tetap memperhatikan keberlanjutan.
Selain produksi, DEN juga mendorong percepatan pembentukan cadangan penyangga energi. Cadangan tersebut berbeda dengan cadangan operasional yang selama ini disiapkan badan usaha untuk menjalankan kegiatan sehari-hari.
“Cadangan penyangga energi itu kalau bisa sampai 30 hari setara impor. Itu diberi waktu sampai 2035. Mudah-mudahan kita mengejar. Tetapi dalam waktu dekat, paling tidak sebelum bisa 30 hari, lima hari dulu atau 10 hari dulu. Secara bertahap kita bisa sampai 30 hari, idealnya 60 hari, lebih-lebih bisa 90 hari,” ujarnya.
Dalam konteks daerah, Jambi dinilai memiliki posisi strategis dalam ketahanan energi nasional. Provinsi ini memiliki berbagai sumber daya energi, mulai dari minyak dan gas bumi, batu bara, biomassa hingga komoditas perkebunan yang dapat menjadi bahan baku energi.
Karena itu, daerah penghasil energi tidak hanya diharapkan mampu memasok kebutuhan wilayah lain, tetapi juga harus memastikan kebutuhan energinya sendiri terpenuhi.
“Jangan sampai tikus mati di lumbung padi. Jangan sampai Jambi yang kaya energi ini kemudian justru kurang pasok energi. Kita harus pastikan daerah-daerah penghasil energi menyumbang daerah lain, tetapi jangan sampai kebutuhannya sendiri tidak tercukupi,” katanya.
Pandangan tersebut memperlihatkan bahwa ketahanan energi memiliki dimensi regional. Ketersediaan sumber daya energi di suatu daerah perlu diikuti dengan sistem distribusi dan pemenuhan kebutuhan energi masyarakat di daerah penghasil.
Perguruan Tinggi Didorong Jadi Bagian dari Solusi
Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Akademik Universitas Jambi, Hafrida mengatakan perguruan tinggi memiliki ruang kontribusi yang konkret melalui penelitian, pengembangan sumber daya manusia, dan pusat-pusat studi yang dapat mendukung kebutuhan energi nasional.
Menurutnya, kolaborasi antara perguruan tinggi dan pemangku kepentingan energi penting untuk menghasilkan riset yang dapat menjawab kebutuhan nyata di sektor energi. “Perguruan tinggi punya fungsi terutama penelitian. Kolaborasi dengan perguruan tinggi merupakan satu strategi yang cukup penting dalam rangka mewujudkan kebutuhan-kebutuhan energi,” ujarnya.
Universitas Jambi, lanjutnya, memiliki sumber daya akademik melalui Fakultas Sains dan Teknologi serta sejumlah pusat studi yang dapat dikembangkan untuk mendukung kajian energi. Kolaborasi tersebut diharapkan tidak berhenti pada penelitian, tetapi dapat menghasilkan kontribusi yang lebih konkret bagi penguatan ketahanan energi nasional.
Dengan demikian, penguatan ketahanan energi Indonesia membutuhkan pendekatan yang lebih menyeluruh: meningkatkan produksi, memperkuat cadangan penyangga, melakukan diversifikasi energi, memastikan ketersediaan bahan baku, mempercepat inovasi teknologi, serta menghubungkan riset perguruan tinggi dengan kebutuhan industri dan pemerintah.
Jambi, dengan kekayaan sumber daya energinya, memiliki posisi penting dalam agenda tersebut. Tantangannya kini adalah memastikan potensi energi yang dimiliki dapat terus diproduksi secara berkelanjutan sekaligus memberikan manfaat bagi kebutuhan energi nasional dan masyarakat di daerah penghasil. (*)






