Radarnesia.com – Operasi modifikasi cuaca (OMC) menjadi salah satu upaya untuk mengurangi dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia. Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi menyebut metode penyemaian bahan tertentu ke atmosfer tersebut menunjukkan hasil yang efektif dalam membantu mengatasi kabut asap.

Prasetyo Hadi menjelaskan, pelaksanaan OMC dilakukan menggunakan bahan berupa dry ice atau es kering serta NaCl (natrium klorida) yang dikenal sebagai garam dapur. Metode ini diterapkan untuk membantu memecah kabut asap tebal yang muncul akibat kebakaran hutan dan lahan.

Menurut Prasetyo, upaya modifikasi cuaca tersebut tidak hanya membantu mengurangi ketebalan kabut asap, tetapi juga memicu turunnya hujan di sejumlah daerah terdampak karhutla.

Turunnya hujan diharapkan dapat membantu proses pemadaman kebakaran, terutama pada lahan yang masih terbakar atau mengeluarkan asap. Dengan demikian, dampak karhutla terhadap lingkungan dan aktivitas masyarakat di sekitarnya diharapkan dapat berkurang.

Modifikasi Cuaca Jadi Upaya Mengatasi Dampak Karhutla

Operasi modifikasi cuaca merupakan salah satu langkah yang dapat dilakukan untuk mendukung penanganan kebakaran hutan dan lahan. Pelaksanaannya bertujuan memanfaatkan kondisi atmosfer agar peluang terjadinya hujan dapat meningkat pada wilayah sasaran.

Dalam penerapannya, keberhasilan OMC bergantung pada sejumlah faktor, termasuk kondisi awan, kelembapan udara, serta dinamika atmosfer di wilayah operasi. Karena itu, pelaksanaan penyemaian perlu disesuaikan dengan kondisi cuaca yang tersedia.

Hujan yang turun di wilayah terdampak berpotensi membantu membasahi vegetasi dan permukaan lahan yang kering. Kondisi tersebut dapat mendukung upaya pemadaman, meskipun efektivitasnya tetap dipengaruhi oleh intensitas hujan, luas area kebakaran, serta karakteristik lahan yang terbakar.

Di sisi lain, penanganan karhutla tetap memerlukan langkah terpadu. Pemadaman langsung di titik api, pemantauan wilayah rawan, serta pencegahan pembakaran lahan menjadi bagian penting untuk menekan risiko kebakaran berulang.

Kabut asap akibat karhutla juga berpotensi mengganggu kesehatan masyarakat, mengurangi jarak pandang, dan menghambat aktivitas sehari-hari. Oleh sebab itu, pengendalian kebakaran menjadi langkah penting untuk melindungi lingkungan sekaligus mengurangi dampak terhadap masyarakat.

Pernyataan Prasetyo Hadi mengenai efektivitas modifikasi cuaca menunjukkan bahwa teknologi tersebut dapat menjadi salah satu instrumen pendukung dalam penanganan karhutla. Namun, upaya pencegahan dan pemadaman di lapangan tetap dibutuhkan agar kebakaran tidak meluas dan kualitas udara dapat kembali membaik.