RADARNESIA.COM – Anggota Komisi VIII DPR RI Fraksi Golkar, Derta Rohidin, menyoroti rendahnya minat masyarakat terhadap program Sekolah Rakyat (SR) berasrama pada jenjang Sekolah Dasar (SD) di sejumlah daerah.
Menurut Derta, salah satu faktor utama penyebab sepi peminat adalah karena anak usia SD masih berada pada fase perkembangan yang sangat membutuhkan kelekatan emosional dengan orang tua.
Program Sekolah Rakyat merupakan inisiatif pemerintah untuk memberikan akses pendidikan gratis bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem. Salah satu modelnya adalah sistem berasrama, di mana siswa tinggal di asrama sekolah selama masa pendidikan.
Namun berdasarkan data dan pantauan di lapangan, program SR jenjang SD dengan sistem asrama ternyata belum banyak diminati masyarakat.
Derta Rohidin menyampaikan hal ini dalam rapat kerja Komisi VIII DPR dengan Kementerian Sosial beberapa waktu lalu. Ia menyebut banyak orang tua yang masih ragu melepas anaknya yang masih kecil untuk tinggal di asrama.
“Banyak orang tua belum siap. Anak SD itu masih sangat butuh kedekatan emosional dengan orang tua. Dipisahkan terlalu lama justru bisa berdampak pada psikologis anak,” ujar Derta, dikutip dari Kompas.
Derta menjelaskan, usia SD merupakan masa krusial dalam pembentukan karakter dan mental anak. Pada fase ini, peran orang tua sangat besar dalam memberikan rasa aman, kasih sayang, dan bimbingan.
Beberapa kekhawatiran orang tua yang ia temui di lapangan antara lain:
- Rasa kangen dan cemas: Orang tua khawatir anak belum mandiri dan sulit beradaptasi jauh dari rumah.
- Kebutuhan pengawasan: Orang tua ingin tetap memantau perkembangan belajar dan pergaulan anak secara langsung.
- Budaya dan kebiasaan: Di banyak daerah, budaya menitipkan anak SD di asrama belum umum dan dianggap belum waktunya.
Karena itu, Derta menilai perlu ada sosialisasi dan pendekatan khusus agar masyarakat memahami tujuan dan manfaat dari program SR berasrama.
Menyikapi kondisi tersebut, Derta meminta pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap model pelaksanaan Sekolah Rakyat, khususnya untuk jenjang SD.
Ia mengusulkan beberapa opsi agar program ini tetap berjalan namun lebih sesuai dengan kondisi psikologis anak dan kesiapan orang tua:
- Model day school: Siswa tetap pulang ke rumah setiap hari, tidak menginap di asrama.
- Asrama dengan kunjungan rutin: Jika tetap berasrama, buat sistem yang memungkinkan orang tua rutin menjenguk.
- Penguatan SDM pengasuh: Pastikan ada tenaga pendidik dan pengasuh yang paham psikologi anak usia SD.
“Jangan sampai niat baik pemerintah untuk memutus rantai kemiskinan melalui pendidikan justru menimbulkan masalah baru di keluarga,” tegas politikus Golkar tersebut.
Meski menyoroti kendala, Derta tetap mendukung tujuan utama dari program Sekolah Rakyat. Program ini diharapkan bisa menjadi solusi bagi anak-anak dari keluarga tidak mampu agar tetap bisa mengenyam pendidikan berkualitas secara gratis.
Ia mendorong Kemensos untuk bekerja sama dengan pemerintah daerah, tokoh masyarakat, dan psikolog anak dalam menyosialisasikan program ini agar tidak terjadi salah paham.
“Yang penting komunikasinya dibangun dulu. Jelaskan ke orang tua bahwa negara hadir untuk membantu, bukan memisahkan,” katanya.
Hingga saat ini, Kemensos masih terus melakukan pendataan dan sosialisasi terkait Sekolah Rakyat di berbagai daerah. Evaluasi terhadap model asrama untuk SD diharapkan bisa segera dilakukan agar target penerima manfaat bisa tercapai tanpa mengabaikan aspek tumbuh kembang anak.
Program pendidikan gratis ini akan efektif jika tidak hanya menyediakan fasilitas, tetapi juga mempertimbangkan kesiapan mental anak dan orang tua. ***








