RADARNESIA.COM – Ketegangan baru di Timur Tengah kembali mengguncang pasar energi global. Harga minyak dunia melonjak tajam setelah eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran mengancam keamanan jalur distribusi utama, Selat Hormuz.

Jalur vital perdagangan minyak itu kini dilaporkan mengalami perlambatan drastis. Data terbaru dari perusahaan riset maritim Kpler menunjukkan hanya 22 kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz pada Kamis (9/7/2026).

Angka tersebut anjlok tajam dibandingkan kondisi normal sebelum konflik, di mana rata-rata lebih dari 130 kapal melintas setiap harinya. Artinya terjadi penurunan lebih dari 83%.

Kepala Riset Timur Tengah Kpler, Amena Bakr, menilai situasi ini telah menghancurkan kepercayaan perusahaan pelayaran internasional.

“Kepercayaan itu terkikis sangat, sangat cepat. Kita kembali ke titik nol dalam situasi ini,” ujar Bakr, sebagaimana dilansir The New York Times, Senin (13/7/2026).

Eskalasi dipicu oleh aksi militer AS yang menghantam sekitar 140 sasaran di Iran. Serangan tersebut merupakan respons Washington atas aksi Teheran yang sebelumnya menyasar sebuah kapal kontainer di kawasan Selat Hormuz.

Tidak tinggal diam, Iran mengklaim telah melakukan serangan balasan terhadap posisi-posisi strategis AS di kawasan tersebut.

Sebelumnya, Badan Energi Internasional (IEA) dalam laporan tertanggal 10 Juli 2026 menyebut pasokan global sempat menunjukkan tren pemulihan pasca gencatan senjata bulan lalu.

Namun IEA memberikan catatan keras bahwa stabilitas pasokan energi dunia ke depan sangat bergantung pada seberapa cepat konflik ini bisa diredam.

Meski harga minyak terus terdorong naik, Bakr mencatat pelaku pasar mulai terbiasa dengan pola ketegangan berulang di Timur Tengah.

“Pasar telah menyesuaikan diri dengan kondisi new normal. Pergerakan harga saat ini belum sepenuhnya mencerminkan kondisi sebenarnya maupun level risiko geopolitik yang tengah terjadi,” pungkasnya.

Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran yang dilalui sekitar 20% perdagangan minyak mentah dan produk minyak dunia. Jika gangguan berlanjut, dampaknya berpotensi meluas ke inflasi global dan rantai pasok energi.