Radarnesia.com – Momentum Hari Anak Nasional (HAN) 2026 menjadi pengingat pentingnya memberikan ruang yang aman dan mendukung bagi tumbuh kembang anak Indonesia.
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, kecerdasan buatan (AI), hingga meningkatnya perhatian terhadap isu kesehatan mental, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, menegaskan bahwa keluarga memegang peran utama dalam menjaga kesehatan mental anak.
Arifah mengungkapkan bahwa persoalan kesehatan mental anak perlu menjadi perhatian serius karena dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan, mulai dari tekanan akademik hingga paparan dunia digital.
Menurut Arifah, persoalan tersebut juga diperkuat oleh temuan hasil pemeriksaan kesehatan yang disampaikan Kementerian Kesehatan.
“Pak Menkes menyampaikan bahwa hasil dari cek kesehatan gratis, 10 persen masyarakat Indonesia dalam kondisi mengalami gangguan kesehatan mental. Sehingga ini memang menarik untuk dikaji lebih jauh,” ujar Arifah.
Banyak Faktor Memengaruhi Kesehatan Mental Anak
Arifah menjelaskan, kesehatan mental anak tidak muncul sebagai persoalan tunggal. Berbagai perubahan sosial dan perkembangan teknologi turut memberikan pengaruh terhadap kondisi psikologis anak.
Ia menyebut tekanan akademik, perubahan pola interaksi sosial, paparan konten digital, hingga perundungan (bullying) menjadi sejumlah faktor yang dapat memicu gangguan kesehatan mental.
“Kesehatan mental ini tidak berdiri sendiri. Penyebabnya bisa karena tekanan akademik, perubahan pola interaksi sosial, paparan konten digital, hubungan antarteman, ada bullying, dan sebagainya,” kata Arifah.
Peran Keluarga Sangat Krusial
Menghadapi tantangan tersebut, Arifah menilai keluarga merupakan lingkungan pertama yang membentuk karakter dan ketahanan mental anak. Karena itu, orang tua memiliki tanggung jawab bersama dalam proses pengasuhan.
Ia menekankan bahwa keberhasilan anak tidak hanya diukur dari prestasi akademik, tetapi juga dari kuatnya nilai agama, moral, etika, dan budi pekerti yang ditanamkan sejak dini.
“Ilmu boleh, tetapi orang berilmu tidak punya akhlak, tidak punya budi pekerti, jadi nol. Karena budi pekerti itu di atasnya ilmu,” tegas Arifah.
Arifah juga mengingatkan bahwa pengasuhan bukan hanya menjadi tanggung jawab ibu, melainkan membutuhkan keterlibatan aktif ayah dan ibu secara bersama-sama.
“Yang mengasuh anak ini adalah tugas orang tua. Harus ada ketersalingan antara ayah dan ibu,” ujar Arifah.
Dorong Gerakan Nasional Ruang Aman Anak
Selain memperkuat peran keluarga, pemerintah juga terus mendorong terciptanya lingkungan yang aman bagi anak melalui kolaborasi lintas kementerian dan lembaga.
Arifah mengatakan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) menginisiasi Gerakan Nasional Ruang Aman dan Nyaman untuk Anak sebagai upaya menciptakan ekosistem yang mendukung tumbuh kembang anak secara menyeluruh.









