Mengenang Heri Farmansyah (Hery FR), Sebuah Renungan tentang Kebaikan, Persaudaraan, dan Kehidupan
Oleh: Letkol (Purn) Firdaus
Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.
Ada kabar duka yang membuat kita terdiam. Ada kepergian yang bukan hanya menghadirkan kesedihan, tetapi juga memaksa kita berhenti sejenak dari kesibukan dunia dan merenungkan kembali arti kehidupan.
Sabtu malam, 8 Agustus 2026, sekitar pukul 23.25 WIB, Heri Farmansyah (Hery FR) mengembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Bhayangkara Jambi dalam usia 58 tahun.
Kabar itu menyentak keluarga besar Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi Jambi. Seorang wartawan senior, mantan Sekretaris PWI Provinsi Jambi periode 2019–2022, sahabat, sekaligus sosok yang telah memberikan warna dalam perjalanan dunia pers di Jambi, telah lebih dahulu memenuhi panggilan Allah SWT.
Bagi dunia pers Jambi, ini bukan sekadar kehilangan seorang wartawan.
Ini adalah kehilangan seorang sahabat.
Dan bagi saya pribadi, almarhum lebih dari sekadar sahabat.
Beliau sudah seperti saudara sendiri.
Ada orang yang hadir dalam perjalanan hidup kita tanpa banyak meminta perhatian, tetapi ketika ia pergi, ruang yang ditinggalkannya terasa begitu besar.
Begitulah Heri.
Kini percakapan tinggal kenangan. Pertemuan tinggal ingatan. Sapaan yang dahulu begitu biasa terdengar, kini hanya dapat kita hadirkan kembali dalam ingatan.
Yang tersisa hanyalah doa.
Dan mungkin, di situlah kematian mengajarkan kita sesuatu yang selama ini sering kita lupakan.
PWI Kehilangan Sosok Panutan
Heri Farmansyah bukan nama yang asing di lingkungan pers Jambi.
Ia pernah dipercaya mengemban amanah sebagai Sekretaris PWI Provinsi Jambi periode 2019–2022. Amanah yang tentu bukan sekadar jabatan, tetapi tanggung jawab untuk ikut menjaga marwah organisasi dan membangun kehidupan pers yang lebih baik.
Almarhum dikenal sebagai wartawan senior yang santun, pekerja keras, mudah bergaul, dan memiliki kepedulian terhadap wartawan-wartawan muda.
Banyak generasi muda pers di Jambi yang pernah mendapatkan arahan, pengalaman, dan nasihat dari almarhum.
Ketua PWI Provinsi Jambi, HR Ridwan Agus, menyampaikan rasa kehilangan yang mendalam. Baginya, Heri adalah sosok teman yang baik dalam organisasi dan memiliki dedikasi besar untuk memajukan PWI serta membina wartawan muda.
Sekretaris PWI Provinsi Jambi, Drs. Arwani, juga merasakan kehilangan yang tidak sederhana. Heri bahkan telah dianggap seperti adik sendiri.
Kesaksian-kesaksian itu mengandung pesan yang lebih dalam daripada sekadar ucapan belasungkawa.
Ketika seseorang telah pergi, yang tersisa bukan lagi jabatan yang pernah disandang.
Bukan pula kedudukan yang pernah dimiliki.
Yang tersisa adalah kesan yang ditanamkan dalam hati orang lain.
Dan Heri meninggalkan kesan itu.
Saya Bersaksi, Almarhum Orang Baik
Saya bersaksi, Heri Farmansyah adalah orang baik.
Kalimat itu saya sampaikan bukan karena suasana duka semata, tetapi karena itulah kesan yang saya rasakan selama mengenal beliau.
Tentu almarhum bukan manusia tanpa kekurangan. Tidak ada manusia yang sempurna. Kita semua memiliki salah dan khilaf.
Namun manusia tidak harus sempurna untuk menjadi baik.
Kebaikan sering kali justru terlihat dalam hal-hal sederhana.
Dalam cara seseorang menghargai orang lain.
Dalam cara ia berbicara.
Dalam kesediaannya membantu.
Dalam kesantunannya menjaga hubungan.
Dalam kemampuannya mempertahankan persaudaraan meskipun terdapat perbedaan.
Hal-hal sederhana itulah yang sering kali menjadi kenangan paling panjang setelah seseorang pergi.
Karena itu, kepribadian Heri patut menjadi contoh bagi kita yang masih hidup.
Bukan untuk mengkultuskan seseorang yang telah meninggal, tetapi untuk mengambil nilai baik dari perjalanan hidupnya.
Jika ada kesantunan yang bisa diteladani, teladanilah.
Jika ada kepedulian yang bisa diteruskan, teruskanlah.
Jika ada persahabatan yang pernah ia jaga, jagalah pula persahabatan itu.
Sebab begitulah seharusnya kematian seseorang memberi manfaat bagi yang masih hidup.
Kematian Tidak Membawa Jabatan
Ada satu pelajaran besar yang selalu dibawa oleh kematian:
Tidak ada yang kekal.
Jabatan akan berakhir.
Pangkat akan ditanggalkan.
Kekuasaan akan berganti.
Harta akan ditinggalkan.
Popularitas akan berlalu.
Allah SWT telah mengingatkan:
“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati.”
(QS. Ali ‘Imran: 185)
Kita semua mengetahui ayat itu.
Tetapi sering kali kita lupa bahwa ayat tersebut juga sedang berbicara kepada diri kita.
Hari ini kita mengantar saudara kita.
Suatu hari nanti, kita pula yang akan diantar.
Hari ini kita mendoakan orang yang telah pergi.
Suatu saat nanti, mungkin nama kita yang disebut dalam doa.
Maka untuk apa kita terlalu tinggi hati?
Untuk apa kita saling menjatuhkan?
Untuk apa kita bertengkar hanya karena jabatan dan kepentingan?
Bukankah semuanya akan kita tinggalkan?
Ketika masuk ke liang lahat, tidak ada lagi jabatan yang bisa dibanggakan.
Tidak ada kekuasaan yang bisa dipamerkan.
Tidak ada harta yang dapat menyelamatkan.
Yang kita harapkan hanyalah rahmat dan ampunan Allah SWT.
Jangan Menunggu Kehilangan untuk Menghargai
Kepergian Heri juga mengajarkan kita untuk tidak menunda kebaikan.
Sering kali kita baru menyadari betapa berharganya seseorang setelah ia pergi.
Kita baru mengatakan, “Dia orang baik,” setelah tidak mungkin lagi ia mendengar ucapan itu.
Kita baru mengenang persahabatan setelah pertemuan tidak mungkin lagi dilakukan.
Padahal selama seseorang masih hidup, kita memiliki kesempatan untuk menghargainya.
Jika pernah berselisih, berdamailah.
Jika pernah menyakiti, mintalah maaf.
Jika pernah disakiti, belajarlah memaafkan.
Jika masih memiliki kesempatan berbuat baik, lakukanlah.
Sebab kita tidak pernah tahu kapan kesempatan terakhir itu datang.
Kematian tidak pernah menunggu kita selesai dengan urusan dunia.
Sebuah Renungan bagi Kita yang Masih Hidup
Tulisan ini bukan semata-mata tentang Heri Farmansyah.
Tulisan ini adalah renungan untuk saya sendiri dan untuk kita semua.
Sebab setiap kematian sesungguhnya sedang mengirimkan pesan kepada mereka yang masih hidup.
Pesannya sederhana:
Kita akan menyusul.
Karena itu, selagi masih diberi umur, mari memperbaiki diri.
Selagi masih diberi kesempatan, mari memperbanyak kebaikan.
Selagi masih bisa bertemu, mari menjaga persaudaraan.
Jangan habiskan hidup untuk saling menjatuhkan.
Jangan merasa paling hebat.
Jangan mengukur manusia hanya dari jabatan dan kedudukannya.
Sebab pada akhirnya, manusia tidak dikenang karena seberapa tinggi ia pernah berdiri.
Manusia dikenang karena seberapa baik ia memperlakukan orang lain ketika masih hidup.
Dan mungkin itulah salah satu warisan terbesar yang ditinggalkan Heri.
Bukan harta.
Bukan jabatan.
Melainkan nama baik dan kepribadian yang patut diteladani.
Selamat Jalan, Saudaraku
Saudaraku Heri Farmansyah,
engkau telah lebih dahulu pulang.
Kami yang masih berada di dunia hanya mampu mengiringimu dengan doa.
Saya bersaksi, engkau adalah orang baik.
Semoga Allah SWT mengampuni segala dosa dan khilafmu, menerima amal ibadahmu, melapangkan kuburmu, menerangi alam barzakhmu, serta menempatkanmu di tempat terbaik di sisi-Nya.
Allahummaghfir lahu warhamhu wa ‘afihi wa’fu ‘anhu.
Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan kesabaran, ketabahan, dan keikhlasan.
Semoga keluarga besar PWI Provinsi Jambi juga diberikan kekuatan dalam menerima kehilangan ini.
PWI kehilangan sosok panutan.
Dunia pers Jambi kehilangan seorang sahabat.
Kami kehilangan seorang saudara.
Namun kebaikanmu tidak ikut terkubur.
Ia akan tetap hidup dalam kenangan.
Menjadi cerita bagi mereka yang pernah mengenalmu.
Menjadi pelajaran bagi mereka yang masih hidup.
Dan semoga menjadi amal yang terus mengalir melalui kebaikan yang pernah engkau tanam.
Selamat jalan, saudaraku Heri.
Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.
Al-Fatihah. 🤲
Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.










