Radarnesia.com – Dampak Karhutla di Desa Sungai Guntung Hilir Rengat mulai menebarkan ancaman nyata berupa paparan kabut asap tipis yang menyelimuti area pemukiman warga setempat sejak pagi hingga waktu menjelang siang hari.

Kondisi udara yang memburuk tersebut kini semakin memprihatinkan karena aroma sangit bekas pembakaran vegetasi lahan gambut mulai tercium sangat menyengat hidung tatkala malam hari tiba menyapa seluruh kawasan pemukiman warga.

Fenomena kemunculan jelutung udara beracun tersebut selaras dengan hasil pantauan ketat dari Stasiun Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Japura Indragiri Hulu yang mendeteksi datangnya kekeringan ekstrem pada wilayah Riau tersebut.

Kepala BMKG Indragiri Hulu Nancy Luciana Damanik menegaskan bahwa daerah tersebut tengah menghadapi ancaman fenomena Hari Tanpa Hujan dengan durasi paling panjang jika dibandingkan dengan kabupaten tetangga pada area sekitarnya.

Situasi cuaca yang sangat gersang ini secara otomatis melipatgandakan tingkat kerentanan serta memperluas potensi titik api baru pada sejumlah lokasi rawan bencana pembakaran hutan daratan di seluruh pelosok wilayah Riau.

Seluruh pemangku kepentingan daerah diimbau untuk segera meningkatkan kesiapsiagaan darurat guna mengantisipasi eskalasi kobaran api sekaligus mengimbau segenap warga masyarakat agar terus menjaga kebugaran stamina daya tahan tubuh mereka.

Hasil analisis mendalam tim BMKG menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah kawasan Provinsi Riau memang telah memasuki fase puncak musim kemarau tahunan terparah secara merata tepat sepanjang bulan Agustus ini.

Periode kering yang melanda wilayah ini ditandai oleh penurunan intensitas curah hujan secara drastis sehingga menciptakan atmosfer lingkungan yang jauh lebih gersang serta sangat mudah memicu timbulnya bencana kebakaran.

Masyarakat setempat diminta menggalakkan kewaspadaan ekstra terhadap bahaya laten kerusakan ekosistem lingkungan sekitar yang kian mengering akibat kelangkaan pasokan air bersih alami di berbagai bendungan maupun aliran sungai daerah.

Perubahan iklim mikro yang sangat ekstrem ini dipicu secara langsung oleh kemunculan fenomena El Nino kuat dengan tingkatan anomali suhu permukaan laut yang tercatat mengalami kenaikan signifikan pada periode terkini.

Eskalasi kekuatan iklim panas global ini diprediksi masih terus berlanjut bahkan berpotensi mengalami penguatan volume yang cukup tajam sehingga memicu penurunan kelembaban udara daratan pada skala yang lebih luas.

Ancaman bencana kekeringan tersebut diprediksi bakal makin parah lantaran bertepatan langsung dengan proyeksi kemunculan fenomena Indian Ocean Dipole positif yang diperkirakan mulai aktif bergerak memasuki periode bulan September mendatang.

Kombinasi destruktif antara El Nino intensitas tinggi beserta indikator fenomena Dipole Mode positif tersebut bakal menghadirkan hantaman cuaca gersang yang berlangsung jauh lebih lama pada sejumlah kawasan strategis Indonesia.

Para pemangku kebijakan publik diminta untuk memfokuskan seluruh perhatian teknis terhadap skenario terburuk dari dampak akumulatif dua fenomena dinamika atmosferik yang saling menguatkan penyerapan uap air hujan tersebut.

Masa transisi paling kritis akibat ancaman bencana kekeringan parah ini diproyeksikan bakal memuncak pada kurun waktu dua bulan ke depan yakni membentang sepanjang rentang bulan Agustus hingga pertengahan September.

Meskipun demikian potensi paparan krisis air bersih beserta bahaya kebakaran lahan kering diperkirakan masih berpeluang mengintai seluruh lapisan masyarakat setempat hingga menginjak momentum penghujung masa kalender akhir tahun mendatang.