Radarnesia.com – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) berdampak terhadap ribuan penerbangan berjadwal domestik di Indonesia. Dalam periode 11 Agustus hingga 21 Oktober 2026, tercatat sebanyak 2.775 penerbangan mengalami gangguan akibat bencana lingkungan tersebut.
Data Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menunjukkan, karhutla menimbulkan berbagai kendala dalam operasional penerbangan. Dampaknya meliputi pembatalan, penundaan, hingga keterlambatan jadwal keberangkatan pesawat.
Dari total penerbangan yang terdampak, sebanyak 1.544 penerbangan mengalami pembatalan atau penundaan. Sementara itu, 1.170 penerbangan lainnya tercatat mengalami keterlambatan.
Angka tersebut menunjukkan bahwa karhutla tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga berpengaruh terhadap kelancaran transportasi udara di Indonesia.
Karhutla Berdampak pada Kelancaran Penerbangan
Kebakaran hutan dan lahan dapat menghasilkan asap yang mengganggu jarak pandang di sekitar bandara maupun jalur penerbangan. Kondisi tersebut berpotensi menyulitkan operasional penerbangan, terutama ketika jarak pandang tidak memenuhi persyaratan keselamatan.
Dalam situasi tertentu, maskapai dan pengelola bandara perlu menyesuaikan jadwal penerbangan untuk mengutamakan keselamatan penumpang serta awak pesawat.
Dampak gangguan penerbangan juga dapat dirasakan oleh penumpang yang harus menghadapi perubahan jadwal perjalanan. Pembatalan dan keterlambatan berpotensi mengganggu agenda perjalanan, baik untuk keperluan pekerjaan, pendidikan, maupun aktivitas lainnya.
Meski demikian, data yang tersedia belum merinci wilayah bandara yang mengalami gangguan paling besar maupun jumlah penumpang yang terdampak selama periode tersebut.
Penanganan Karhutla Menjadi Perhatian
Gangguan terhadap ribuan penerbangan tersebut memperlihatkan pentingnya penanganan kebakaran hutan dan lahan secara berkelanjutan. Upaya pencegahan dan pemadaman karhutla diperlukan untuk mengurangi dampak asap terhadap lingkungan, kesehatan masyarakat, serta aktivitas transportasi.
Selain penanganan di lapangan, pemantauan kondisi cuaca dan jarak pandang juga menjadi bagian penting dalam menjaga keselamatan operasional penerbangan.
Masyarakat yang memiliki rencana perjalanan udara di wilayah terdampak disarankan memantau informasi terbaru dari maskapai dan pihak bandara. Langkah ini penting untuk mengantisipasi perubahan jadwal maupun kemungkinan pembatalan penerbangan.
Data Kemenhub untuk periode 11 Agustus hingga 21 Oktober 2026 menjadi gambaran besarnya dampak karhutla terhadap transportasi udara domestik. Penanganan yang tepat diharapkan dapat menekan risiko gangguan serupa dan menjaga kelancaran perjalanan masyarakat.




