Radarnesia.com – Air mineral dan air demineral sama-sama mudah ditemukan di pasaran dan sekilas tidak memiliki perbedaan karena tampilannya sama-sama jernih. Namun, kedua jenis air tersebut memiliki karakteristik, kandungan, serta proses pengolahan yang berbeda.
Air mineral secara alami mengandung sejumlah mineral, termasuk kalsium dan magnesium, yang berasal dari sumber airnya. Sementara itu, air demineral diproses menggunakan teknologi tertentu untuk mengurangi sebagian besar kandungan mineral di dalam air.
Perbedaan air mineral dan air demineral penting diketahui konsumen sebelum memilih produk air minum kemasan. Pasalnya, istilah pada label kemasan menunjukkan karakteristik produk yang tidak selalu sama.
Air Mineral Mengandung Mineral Alami
Air mineral merupakan air yang memiliki kandungan mineral tertentu dan berasal dari sumber yang memenuhi persyaratan mutu. Mineral seperti kalsium dan magnesium dapat menjadi bagian dari komposisi alami air tersebut.
Berdasarkan SNI 3553:2015, air mineral memiliki persyaratan mutu tertentu, termasuk parameter pH. Rentang pH yang dipersyaratkan berada sekitar 6,0 hingga 8,5.
Kandungan mineral pada air dapat berbeda antara satu produk dan produk lainnya. Perbedaan tersebut dipengaruhi sumber air serta karakteristik geologi wilayah tempat air berasal.
Karena itu, konsumen dapat menemukan air mineral dengan komposisi mineral yang tidak sepenuhnya sama. Informasi mengenai kandungan dan karakteristik produk biasanya tercantum pada label kemasan.
Air Demineral Melewati Proses Pemurnian
Berbeda dengan air mineral, air demineral merupakan air yang telah melalui proses untuk menghilangkan atau mengurangi kandungan mineral terlarut. Teknologi yang digunakan dapat berupa distilasi, deionisasi, maupun reverse osmosis.
Proses tersebut membuat kandungan mineral dalam air menjadi jauh lebih rendah dibandingkan air mineral. Karakteristik air akhirnya juga dapat berbeda, termasuk pada tingkat keasamannya.
SNI 6241:2015 menjadi salah satu standar yang mengatur persyaratan mutu air demineral. Dalam standar tersebut, rentang pH air demineral berada sekitar 5,0 hingga 7,5.
Meski demikian, rendahnya kandungan mineral bukan berarti air demineral otomatis tidak layak dikonsumsi. Produk yang beredar sebagai air minum tetap harus memenuhi ketentuan keamanan dan mutu yang berlaku.
Mengapa Air Demineral Terasa Berbeda?
Sebagian konsumen mungkin merasakan perbedaan karakteristik ketika mengonsumsi air mineral dan air demineral. Perbedaan tersebut dapat dipengaruhi oleh kandungan mineral serta proses pengolahan masing-masing produk.
Mineral terlarut dapat memberikan karakter rasa tertentu pada air. Karena kandungan mineral air demineral sangat rendah, sensasi rasanya bisa terasa lebih ringan bagi sebagian orang.
Namun, rasa bukan satu-satunya indikator untuk menentukan kualitas air minum. Konsumen sebaiknya memperhatikan informasi pada label, izin edar, sumber air, serta standar mutu produk.
Benarkah Air Demineral Bisa Memengaruhi Mineral Tubuh?
Perhatian terhadap air demineral juga muncul karena adanya pembahasan mengenai konsumsi air dengan kandungan mineral sangat rendah dalam jangka panjang.
Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO pernah membahas karakteristik dan potensi risiko konsumsi air demineral dalam laporan mengenai air yang telah mengalami proses demineralisasi.
Air dengan kandungan mineral sangat rendah secara teori dapat memiliki karakteristik berbeda terhadap keseimbangan mineral. Namun, kebutuhan mineral tubuh manusia pada dasarnya juga dipenuhi melalui makanan dan minuman lainnya.
Karena itu, konsumsi air demineral perlu dilihat dalam konteks pola makan dan asupan nutrisi secara keseluruhan. Tidak tepat jika seluruh kebutuhan mineral tubuh hanya dikaitkan dengan jenis air yang diminum.
Cara Membedakan Air Mineral dan Air Demineral
Perbedaan air mineral dan air demineral dapat diketahui dengan membaca label kemasan secara teliti. Jangan hanya melihat bentuk botol, warna air, atau merek yang sudah familiar.
Pada kemasan biasanya terdapat keterangan mengenai jenis air, komposisi, sumber air, proses pengolahan, serta informasi mutu lainnya. Keterangan tersebut dapat membantu konsumen menentukan produk sesuai kebutuhan.
Air mineral umumnya mempertahankan kandungan mineral tertentu dari sumbernya. Sebaliknya, air demineral telah melewati proses pengolahan yang dirancang untuk mengurangi kandungan mineral terlarut.
Selain itu, konsumen sebaiknya memastikan produk memiliki izin edar dan memenuhi standar keamanan pangan yang berlaku. Langkah sederhana tersebut lebih penting daripada sekadar memilih berdasarkan harga atau tampilan kemasan.
Jangan Keliru Menganggap Semua Air Kemasan adalah Air Mineral
Banyaknya produk air minum dalam kemasan membuat konsumen perlu lebih teliti ketika berbelanja. Air yang terlihat sama-sama bening belum tentu memiliki jenis dan proses pengolahan yang sama.
Air mineral dan air demineral merupakan dua kategori berbeda dengan karakteristik masing-masing. Perbedaan tersebut terutama terletak pada kandungan mineral dan metode pengolahan yang digunakan.
Memahami informasi pada label dapat membantu masyarakat membuat keputusan yang lebih tepat. Dengan begitu, konsumen tidak lagi menganggap seluruh air kemasan sebagai air mineral.
Pada akhirnya, pilihan air minum sebaiknya mempertimbangkan keamanan produk, kebutuhan individu, kondisi lingkungan, serta pola konsumsi secara keseluruhan. Yang terpenting, pastikan air yang dikonsumsi berasal dari produk yang memenuhi persyaratan mutu dan keamanan.





