Radarnesia.com – Menanam pakcoy dari bonggol sisa dapur bisa menjadi cara sederhana untuk memulai kegiatan berkebun di rumah. Bagian pangkal sayuran yang biasanya dibuang setelah dimasak ternyata masih dapat dimanfaatkan untuk menumbuhkan tunas dan daun baru.
Pakcoy sering digunakan sebagai bahan tumisan, sup, hingga berbagai hidangan rumahan. Dengan memanfaatkan bonggol yang masih segar, kamu bisa mencoba menanam kembali sayuran ini tanpa harus langsung membeli benih.
Cara menanam pakcoy dari bonggol juga relatif mudah dan tidak membutuhkan banyak peralatan. Metode ini cocok bagi pemula yang ingin berkebun di lahan terbatas, seperti teras, halaman kecil, atau area dekat jendela yang mendapat cukup cahaya matahari.
Meski demikian, perlu dipahami bahwa pertumbuhan pakcoy dari bonggol berbeda dengan tanaman yang berasal dari benih. Bonggol umumnya dapat menumbuhkan daun baru, tetapi belum tentu menghasilkan tanaman utuh dengan ukuran dan kualitas yang sama seperti pakcoy yang ditanam dari biji.
1. Siapkan Bonggol Pakcoy yang Masih Segar
Langkah pertama adalah memilih bonggol pakcoy yang sehat. Gunakan bagian pangkal yang masih utuh, tidak membusuk, dan memiliki titik tumbuh di bagian tengah.
Saat memotong pakcoy untuk memasak, sisakan bagian pangkal sekitar 3–5 sentimeter agar tunas berpeluang tumbuh kembali. Hindari menggunakan bonggol yang sudah terlalu kering, berlendir, atau berbau tidak sedap.
Kondisi bonggol sangat menentukan keberhasilan proses pertumbuhan. Semakin baik kondisinya, semakin besar peluang munculnya tunas baru.
2. Rendam Bonggol dalam Wadah Berisi Air
Setelah bonggol siap, letakkan bagian pangkal pakcoy di dalam wadah kecil yang berisi sedikit air. Pastikan air hanya menyentuh bagian bawah bonggol, sedangkan bagian atas dan titik tumbuhnya tidak terendam seluruhnya.
Tempatkan wadah di area terang yang memperoleh cahaya matahari tidak langsung. Hindari paparan sinar matahari yang terlalu terik karena dapat membuat bonggol cepat mengering.
Ganti air setiap hari atau ketika terlihat keruh agar kebersihannya tetap terjaga. Dalam beberapa hari, bonggol yang masih aktif dapat menunjukkan pertumbuhan akar atau tunas baru, meskipun waktunya berbeda-beda.
3. Pindahkan ke Pot Setelah Tumbuh Akar
Ketika akar mulai muncul dan tunas terlihat berkembang, bonggol dapat dipindahkan ke pot berisi media tanam. Pilih pot yang memiliki lubang drainase agar kelebihan air bisa mengalir keluar.
Gunakan media tanam yang gembur dan mampu menyimpan kelembapan tanpa membuat akar terus-menerus tergenang. Campuran tanah, kompos matang, dan sekam dapat menjadi salah satu pilihan.
Tanam bagian bawah bonggol secara hati-hati, lalu padatkan media secukupnya agar tanaman berdiri stabil. Pastikan titik tumbuh dan daun muda tetap berada di atas permukaan tanah.
4. Rawat Pakcoy dengan Penyiraman yang Tepat
Pakcoy membutuhkan air yang cukup untuk mendukung pertumbuhan daun. Siram media tanam ketika permukaannya mulai mengering, tetapi jangan sampai pot terus-menerus tergenang.
Letakkan tanaman di tempat yang memperoleh cahaya matahari cukup. Jika ditanam di dalam rumah, pilih lokasi terang dengan sirkulasi udara yang baik.
Perhatikan pula kondisi daun dan pangkal tanaman. Apabila muncul bagian yang menguning, lembek, atau membusuk, segera periksa kelembapan media dan buang bagian yang sudah rusak jika memungkinkan.
5. Pahami Hasil Pertumbuhan dari Bonggol Pakcoy
Menanam pakcoy dari bonggol merupakan cara menarik untuk memanfaatkan sisa sayuran sekaligus mengenal proses pertumbuhan tanaman. Namun, hasilnya tidak selalu sama pada setiap bonggol.
Bonggol yang ditanam kembali biasanya lebih cocok untuk menghasilkan tunas dan daun baru. Tanaman juga dapat mengalami perubahan bentuk atau pertumbuhan, terutama jika sudah mulai membentuk tangkai bunga.
Jika ingin mendapatkan pakcoy dengan ukuran lebih besar dan hasil panen yang lebih konsisten, menanam dari benih tetap menjadi pilihan yang lebih dapat diandalkan.
Dengan perawatan sederhana, bonggol pakcoy yang biasanya berakhir di tempat sampah bisa dimanfaatkan kembali untuk percobaan berkebun di rumah. Selain membantu mengurangi sisa dapur, kegiatan ini juga dapat menjadi cara praktis bagi pemula untuk belajar merawat tanaman.






