Radarnesia.com – Peringatan Hari Pangan Sedunia atau World Food Day setiap 16 Oktober menjadi momentum untuk menyoroti persoalan limbah makanan (food waste) yang masih menjadi tantangan serius di Indonesia dan dunia.
Berdasarkan kajian Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas), Indonesia menghasilkan susut dan sisa pangan sekitar 23 juta hingga 48 juta ton per tahun selama periode 2000–2019.
Jumlah tersebut setara dengan 115–184 kilogram pangan per orang setiap tahun. Tidak hanya berdampak terhadap lingkungan, persoalan ini juga menimbulkan kerugian ekonomi yang diperkirakan mencapai Rp213 triliun hingga Rp551 triliun.
Besarnya angka tersebut menunjukkan bahwa persoalan pangan bukan sekadar tentang ketersediaan bahan makanan, melainkan juga bagaimana masyarakat mengelola dan memanfaatkan makanan agar tidak terbuang sia-sia.
Limbah Makanan Jadi Persoalan Global
Masalah pemborosan pangan tidak hanya terjadi di Indonesia. Laporan Food Waste Index Report 2024 yang diterbitkan Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) mencatat, dunia menghasilkan sekitar 1,05 miliar ton sampah makanan pada 2022.
Angka tersebut menggambarkan besarnya jumlah makanan yang berakhir sebagai limbah di tengah persoalan kelaparan yang masih dialami jutaan orang.
Pada periode yang sama, sekitar 783 juta orang di dunia menghadapi kelaparan. Kondisi ini memperlihatkan adanya kesenjangan antara pangan yang terbuang dan kebutuhan masyarakat terhadap makanan yang layak.
Pemborosan pangan juga berarti sumber daya yang digunakan untuk memproduksi makanan ikut terbuang. Mulai dari air, energi, lahan pertanian, hingga tenaga kerja, semuanya telah digunakan sebelum makanan tersebut akhirnya menjadi sampah.
Karena itu, pengurangan limbah makanan menjadi salah satu langkah penting untuk mendukung pemanfaatan sumber daya secara lebih efisien.
Kebiasaan Sehari-hari Berpengaruh terhadap Sampah Makanan
Sisa makanan dapat berasal dari berbagai aktivitas, mulai dari rumah tangga, restoran, hotel, hingga sektor perdagangan dan distribusi pangan.
Di lingkungan rumah tangga, makanan berpotensi terbuang karena pembelian berlebihan, penyimpanan yang kurang tepat, porsi makan yang terlalu besar, atau bahan pangan yang dibiarkan hingga kedaluwarsa.
Kebiasaan mengambil makanan melebihi kebutuhan juga dapat meningkatkan jumlah sisa makanan yang berakhir di tempat sampah.
Padahal, pemborosan pangan dapat ditekan melalui perubahan sederhana. Masyarakat dapat merencanakan menu sebelum berbelanja, membeli bahan makanan sesuai kebutuhan, menyimpan bahan pangan dengan benar, serta memanfaatkan sisa makanan yang masih layak dikonsumsi.
Selain itu, pengelolaan persediaan makanan perlu dilakukan secara teratur agar bahan pangan yang lebih dahulu dibeli dapat digunakan sebelum kualitasnya menurun.
Hari Pangan Sedunia Jadi Momentum Mengurangi Food Waste
Hari Pangan Sedunia yang diperingati setiap 16 Oktober menjadi pengingat pentingnya membangun sistem pangan yang lebih berkelanjutan.
Upaya mengurangi sampah makanan membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, pelaku usaha, hingga masyarakat. Edukasi mengenai pengelolaan pangan dan perubahan kebiasaan konsumsi menjadi bagian penting dalam mengatasi persoalan tersebut.
Di tingkat rumah tangga, langkah sederhana seperti menyusun daftar belanja, mengatur porsi makan, dan mengolah bahan pangan secara optimal dapat membantu mengurangi makanan yang terbuang.
Sementara itu, pelaku usaha pangan dapat memperbaiki pengelolaan stok, penyimpanan, dan distribusi agar makanan tidak rusak sebelum sampai kepada konsumen.
Besarnya kerugian ekonomi akibat susut dan sisa pangan di Indonesia memperlihatkan bahwa pengurangan food waste juga berkaitan dengan efisiensi pengeluaran dan pemanfaatan sumber daya.
Momentum Hari Pangan Sedunia pun dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kesadaran bahwa setiap makanan memiliki nilai. Mengurangi pangan yang terbuang menjadi salah satu langkah nyata untuk mendukung ketahanan pangan sekaligus menjaga lingkungan.






