Radarnesia.com – Kalimantan Tengah mencatat jumlah titik panas (hotspot) berstatus high confidence tertinggi di antara wilayah prioritas pemantauan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia. Berdasarkan data Sistem Pemantauan Karhutla (SiPongi) Kementerian Kehutanan, terdapat 1.135 titik panas di provinsi tersebut dalam periode pemantauan 24 jam terakhir.
Angka tersebut menempatkan Kalimantan Tengah jauh di atas sejumlah provinsi lain yang juga masuk dalam pemantauan karhutla. Data ini menjadi gambaran sebaran titik panas yang terdeteksi melalui sistem pemantauan berbasis satelit.
SiPongi menggunakan data pengamatan satelit Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20 untuk memantau kemunculan titik panas di berbagai wilayah Indonesia. Informasi tersebut dapat menjadi salah satu indikator awal dalam mengidentifikasi potensi kebakaran hutan dan lahan.
Sumatra Selatan Catat 193 Titik Panas
Setelah Kalimantan Tengah, Sumatra Selatan menempati posisi berikutnya dengan 193 titik panas berstatus high confidence. Jumlah tersebut terpaut cukup jauh dari angka yang tercatat di Kalimantan Tengah.
Kalimantan Barat berada di urutan selanjutnya dengan 138 titik panas. Sementara itu, Kalimantan Selatan mencatat 99 titik panas dalam periode pengamatan yang sama.
Di wilayah Sumatra lainnya, Jambi mencatat 21 titik panas. Adapun Kalimantan Timur memiliki 15 titik panas berdasarkan data pemantauan tersebut.
Berbeda dari provinsi-provinsi tersebut, Riau tidak mencatat titik panas dalam kategori high confidence selama periode pemantauan 24 jam terakhir.
Data Satelit Jadi Acuan Pemantauan Karhutla
Pemantauan titik panas melalui SiPongi menjadi salah satu upaya untuk memperoleh informasi mengenai indikasi potensi kebakaran hutan dan lahan di berbagai daerah.
Status high confidence menunjukkan tingkat keyakinan deteksi satelit yang tinggi terhadap titik panas yang teridentifikasi. Namun, keberadaan titik panas tidak serta-merta memastikan bahwa lokasi tersebut merupakan kebakaran hutan atau lahan yang sedang berlangsung.
Karena itu, data satelit perlu ditindaklanjuti dengan pemeriksaan lapangan untuk memastikan kondisi sebenarnya. Langkah tersebut penting agar indikasi kebakaran dapat diverifikasi dan penanganan bisa dilakukan sesuai kebutuhan.
Perbedaan jumlah titik panas antardaerah juga menunjukkan pentingnya pemantauan secara berkala, terutama di wilayah dengan konsentrasi deteksi yang tinggi.
Kalimantan Tengah, dengan catatan 1.135 titik panas dalam periode pemantauan tersebut, menjadi wilayah yang perlu mendapat perhatian dalam upaya pengawasan potensi karhutla.
Informasi SiPongi dapat digunakan sebagai salah satu dasar untuk mendukung kewaspadaan dan koordinasi penanganan karhutla. Meski demikian, perkembangan situasi di lapangan tetap perlu dipantau untuk mengetahui apakah titik panas yang terdeteksi berkembang menjadi kebakaran.





