Radarnesia.com – Kopi menjadi minuman favorit banyak orang. Namun, bagi sebagian orang, secangkir kopi dapat memicu gangguan pencernaan, seperti rasa panas di dada (heartburn), naiknya asam lambung atau gastroesophageal reflux disease (GERD), hingga keinginan buang air besar lebih sering.

Hal ini berkaitan dengan kandungan kafein yang tidak hanya meningkatkan kewaspadaan tapi juga merangsang kerja saluran pencernaan. Pada sebagian orang, kafein dapat membuat feses menjadi lebih encer, memicu diare, bahkan meningkatkan risiko dehidrasi jika dikonsumsi berlebihan.

Karena alasan tersebut, kopi rendah asam (low acid coffee) mulai banyak diminati. Jenis kopi ini diklaim lebih ramah bagi lambung. Namun, benarkah demikian?

Memahami Kopi Rendah Asam
Istilah low acid mengacu pada tingkat keasaman berdasarkan skala pH, bukan berarti kopi tersebut bebas asam.

Pada skala pH, angka 0–7 bersifat asam, angka 7 netral, sedangkan angka 7–14 bersifat basa. Sebagian besar kopi memiliki pH sekitar 5 sehingga masih tergolong asam, tetapi tingkat keasamannya lebih rendah dibandingkan minuman bersoda atau jus jeruk yang memiliki pH sekitar 2–3.

Mengutip Banner Health pada Selasa (21/7/2026) tingkat keasaman makanan atau minuman sebenarnya bukan faktor utama yang menyebabkan gangguan lambung.

Sebab, hampir semua makanan dan minuman yang dikonsumsi akan dipecah oleh asam lambung yang memiliki pH sekitar 1–3. “Sebenarnya tidak ada bukti kuat yang menunjukkan bahwa tingkat keasaman adalah penyebab utama seseorang mengalami masalah saat minum kopi,” tulis situs tersebut.

Perbedaan tingkat keasaman antara kopi biasa dan kopi low acid juga relatif kecil. Kopi hitam umumnya memiliki pH sekitar 5,2, sedangkan kopi low acid sekitar 5,7. Sementara itu, cold brew coffee memiliki pH sekitar 5,1.

Artinya, kopi rendah asam belum tentu memberikan manfaat yang signifikan bagi kesehatan lambung. Faktor lain, seperti kandungan kafein, jenis biji kopi, metode pengolahan, dan cara penyeduhan juga turut memengaruhi kenyamanan seseorang saat menikmati kopi.

Proses Pengolahan Berperan Penting

Selain jenis biji kopi, metode pengolahan menjadi salah satu faktor yang menentukan karakter rasa sekaligus tingkat keasaman kopi.

Salah satu contohnya adalah premium roastery beans Cublak Suweng yang memadukan biji kopi Gayo, Aceh, dan Temanggung, Jawa Tengah. Biji kopi ini diolah menggunakan kombinasi metode wet hulled (giling basah) dan natural.

Metode giling basah mempertahankan kadar kelembapan biji kopi sebelum kulit tanduk dilepas dan biji dikeringkan. Teknik ini menghasilkan karakter rasa yang lebih earthy dengan tingkat acidity yang lebih rendah.

Sementara itu, proses natural membantu mempertahankan rasa manis alami dari buah kopi sehingga menghasilkan profil rasa yang lebih kompleks. Kombinasi keduanya menghasilkan kopi dengan body yang padat, rasa manis alami, dan tingkat keasaman yang lebih rendah.

“Karakteristik biji kopi Gayo yang khas bertemu sentuhan karamel, hazelnut, dan cokelat dari biji kopi Temanggung, membuat kopi ini memiliki cita rasa yang seimbang dan harmonis,” kata ujar CEO Roemah Koffie, Felix TJ.