Radarnesia.com — Fenomena alam akibat musim kemarau berkepanjangan kembali membawa dampak serius bagi warga di kawasan hulu. Sungai Ciliwung surut secara drastis hingga memperlihatkan hamparan bebatuan besar di dasar sungai yang biasanya terendam air.

Kondisi ini tidak hanya mengubah pemandangan aliran sungai ikonik tersebut, tetapi juga memicu krisis air bersih yang dirasakan langsung oleh masyarakat setempat, khususnya di wilayah Pulo Geulis, Kota Bogor.

Menyusutnya debit air secara signifikan ini memaksa warga Kampung Pulo Geulis, Kelurahan Babakan Pasar, Kecamatan Bogor Tengah, untuk memutar otak demi tetap bisa bertahan hidup. Sejumlah warga bahkan terpaksa mencuci pakaian di tengah aliran Sungai Ciliwung lantaran sumber air di tepi sungai telah mengering sepenuhnya.

Pemandangan tidak biasa ini mendominasi aktivitas warga sejak pagi hari, di mana bebatuan kali yang bermunculan disulap menjadi tempat beraktivitas alternatif.

Dampak dari kemarau ekstrem ini jauh melampaui sekadar perubahan kebiasaan harian warga. Berkurangnya volume air Sungai Ciliwung membuat pasokan air bersih bagi masyarakat semakin terbatas. Warga mengaku kesulitan mendapatkan air untuk kebutuhan mendasar seperti memasak dan minum.

Pasokan air dari PDAM yang mengalir ke permukiman warga dilaporkan ikut mengecil dan sering kali macet, memaksa sebagian warga untuk membeli air jerigen atau mengandalkan bantuan tetangga demi memenuhi kebutuhan dapur sehari-hari.

Mardiah, salah seorang warga setempat, menuturkan bahwa kondisi kemarau tahun ini terasa sangat berat dan berdampak langsung pada debit air.

“Kondisi kemarau ini mengakibatkan keringnya air Sungai Ciliwung. Kami yang biasanya memanfaatkan aliran sungai untuk kebutuhan mencuci, kini tidak bisa lagi dari tepi, melainkan harus turun langsung ke tengah sungai karena bagian pinggirnya sudah tandus,” ungkap Mardiah saat ditemui di lokasi, Selasa.

Dari data pengamatan lapangan, fenomena surutnya air ini sejalan dengan kondisi hulu. Di Bendung Katulampa, debit Sungai Ciliwung sempat mencatatkan angka ekstrem di titik 0 sentimeter atau berada jauh di bawah status normal.

Akibat volume air yang menipis drastis tersebut, pasokan air yang dialirkan menuju wilayah Jakarta melalui aliran Sungai Ciliwung dilaporkan hanya tersisa sekitar 200 liter per detik. Angka ini merupakan penurunan yang sangat tajam dibandingkan kondisi normal pada musim penghujan.

Para ahli lingkungan dan pengamat cuaca menilai bahwa kondisi ini merupakan indikator nyata dari ancaman hidrometeorologi kering yang perlu diwaspadai oleh pemerintah daerah.

Penurunan debit air yang drastis tidak hanya mengancam aktivitas domestik warga di bantaran sungai, tetapi juga berpotensi mengganggu ekosistem akuatik di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung.

Ikan dan biota air lainnya kehilangan habitat akibat berkurangnya genangan air yang tersisa di antara celah-celah batu.

Hingga saat ini, warga di kawasan Pulo Geulis hanya bisa pasrah sambil berharap segera turun hujan lebat untuk memulihkan debit air sungai.

Pemerintah daerah dan instansi terkait diharapkan segera turun tangan memberikan solusi jangka pendek, seperti penyediaan truk tangki air bersih bagi warga terdampak.

Krisis air bersih di tengah kemarau panjang ini menjadi pengingat penting akan pentingnya manajemen sumber daya air dan mitigasi perubahan iklim yang lebih masif di masa mendatang.