Radarnesia.com – Di tengah berbagai dinamika yang berkembang, kondisi Bank Jambi dinilai masih berada dalam jalur yang stabil dan terkendali. Sejumlah pengamat menilai perubahan yang terjadi saat ini justru merupakan bagian dari proses modernisasi dan transformasi kelembagaan untuk memperkuat daya saing bank daerah di era digital dan persaingan industri perbankan yang semakin ketat.

Pengamat perbankan daerah, Laila Farhat menilai kondisi Bank Jambi saat ini tidak tepat jika disebut mengalami krisis, melainkan sedang memasuki fase modernisasi dan transformasi kelembagaan untuk memperkuat sistem perbankan daerah agar lebih sehat, profesional, dan kompetitif.

Berbicara di Jambi (4/5) Laila Farhat memgatakan dinamika yang berkembang di ruang publik harus dipahami sebagai bagian dari proses pembenahan internal yang lazim terjadi dalam industri perbankan, terutama ketika bank daerah dituntut melakukan penyesuaian terhadap perkembangan teknologi dan persaingan sektor jasa keuangan.

“Kalau kita melihat indikator perbankan secara objektif, aktivitas operasional Bank Jambi masih berjalan normal. Pelayanan nasabah tetap berlangsung, transaksi keuangan tetap aktif, fungsi penghimpunan dana dan penyaluran kredit juga masih berjalan. Jadi ini bukan krisis, tetapi proses transformasi menuju sistem yang lebih baik,” ujarnya.

Ia menjelaskan, transformasi yang dilakukan Bank Jambi terlihat dari upaya penguatan tata kelola perusahaan, peningkatan efisiensi operasional, modernisasi layanan berbasis digital, hingga pembenahan manajemen risiko untuk meningkatkan daya saing bank daerah di tengah kompetisi industri keuangan nasional.

Menurutnya, langkah pembaruan tersebut menjadi kebutuhan penting agar Bank Jambi tidak hanya bertahan sebagai bank pembangunan daerah, tetapi juga mampu berkembang menjadi institusi keuangan regional yang modern dan dipercaya masyarakat.

“Perbankan sekarang berubah sangat cepat. Bank daerah tidak bisa lagi hanya mengandalkan sistem lama. Karena itu modernisasi layanan, digitalisasi transaksi, peningkatan kualitas SDM, dan penguatan pengawasan internal menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan bisnis perbankan,” katanya.

Laila Farhat juga menilai secara fundamental Bank Jambi masih memiliki basis usaha yang kuat karena didukung aktivitas ekonomi daerah, sektor ASN, pemerintah daerah, hingga pelaku UMKM yang menjadi tulang punggung ekonomi Jambi.

Ia menyebut kemampuan bank menjaga layanan operasional dan stabilitas transaksi menjadi indikator penting bahwa kondisi perusahaan masih dalam keadaan terkendali.

“Dalam industri perbankan, kepercayaan publik memang penting. Tetapi ukuran utama kesehatan bank tetap pada kemampuan menjalankan fungsi intermediasi, menjaga likuiditas, dan mempertahankan pelayanan kepada masyarakat. Saya melihat fungsi-fungsi itu masih berjalan baik di Bank Jambi,” tegasnya.

Selain itu, ia mengajak masyarakat untuk tetap rasional dan objektif dalam menyikapi berbagai isu yang berkembang, serta tetap mendukung proses transformasi yang sedang dilakukan agar Bank Jambi dapat tumbuh menjadi bank daerah yang lebih profesional dan adaptif terhadap perubahan zaman.

“Transformasi memang sering menimbulkan dinamika, tetapi itu bagian dari proses menuju institusi yang lebih kuat. Yang paling penting sekarang adalah menjaga tata kelola, transparansi, dan konsistensi pelayanan kepada masyarakat,” tutupnya.