Radarnesia.com – Televisi pemerintah Iran menyiarkan rekaman video pada Minggu waktu setempat, memperlihatkan kapal-kapal kargo raksasa dan tanker minyak berhenti beroperasi dan tertahan di Selat Hormuz.

Kelumpuhan lalu lintas maritim ini terjadi usai Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran kembali mengumumkan penutupan selat setelah dibuka satu hari sebelumnya.

Teheran menegaskan, jalur pelayaran internasional itu baru akan dibuka jika Amerika Serikat (AS) mengakhiri blokade angkatan lautnya terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Dalam rekaman visual yang beredar, kapal-kapal komersial raksasa tampak tidak bergerak sama sekali, sementara hanya perahu-perahu kecil yang terlihat berpatroli mengitari perairan selat.

“Selama blokade angkatan laut AS belum dicabut, selat itu tidak akan dibuka, dan tidak akan ada negosiasi yang dilakukan,” tegas pernyataan Garda Revolusi Iran, dikutip dari laporan Viory, Senin, 20 April 2026.

Sebagai wujud ketegasan atas blokade tersebut, militer Iran dilaporkan telah mencegat dua kapal tanker minyak berbendera Angola dan Botswana. Kedua kapal itu dipaksa untuk berputar balik saat mencoba melintasi Selat Hormuz.

Mekanisme Penutupan Selat
Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei turut memberikan instruksi langsung terkait krisis ini. Melalui media pemerintah, Khamenei menekankan agar Teheran terus memaksimalkan ‘mekanisme penutupan selat’ sebagai alat pertahanan strategis.

Ia juga mengarahkan pasukannya untuk mengkaji strategi pembukaan medan pertempuran baru. “Front-front ini akan diaktifkan jika perang berlanjut, khususnya di titik di mana musuh kurang berpengalaman dan akan sangat rentan,” ancam Khamenei.

Presiden AS Donald Trump langsung merespons ancaman tersebut. Melalui platform Truth Social, Trump menyindir pengumuman blokade Iran itu sebagai sesuatu yang “aneh”, mengingat blokade militer AS sendiri yang sebenarnya telah menutup selat tersebut.

Trump juga menuding Teheran telah melakukan pelanggaran gencatan senjata secara terang-terangan. Ia mengklaim pasukan Iran melepaskan tembakan di Selat Hormuz yang secara spesifik menargetkan kapal-kapal asal Prancis dan Inggris.

Di tengah eskalasi yang kian meruncing, Pakistan dan sejumlah negara kawasan terus berupaya menjadi penengah. Mereka mencoba meredakan ketegangan dengan merancang putaran kedua pembicaraan damai AS-Iran di Islamabad yang diproyeksikan berlangsung pekan depan.

Sebelumnya, putaran pertama perundingan yang digelar di Islamabad pada 11-12 April lalu berakhir buntu tanpa hasil konkret. Proses negosiasi tersebut merupakan kelanjutan dari kesepakatan gencatan senjata bersyarat selama dua minggu yang disepakati pada 8 April.