Radarnesia.com – Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menyoroti serius kondisi kesejahteraan nelayan dan petani di Indonesia. Ia menilai persoalan daya tawar serta kesenjangan ekonomi kedua kelompok tersebut membutuhkan perhatian lebih besar.

Zulkifli Hasan atau Zulhas menyebut Nilai Tukar Nelayan (NTN) saat ini berada pada angka 103. Kondisi tersebut menunjukkan posisi ekonomi nelayan masih berada pada kelompok masyarakat dengan tingkat kesejahteraan paling rendah.

Menurut Zulhas, persoalan yang dihadapi nelayan tidak hanya berkaitan dengan pendapatan. Lemahnya posisi tawar membuat mereka menghadapi tekanan ekonomi ketika harus memenuhi kebutuhan hidup sekaligus menjalankan aktivitas melaut.

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena nelayan memiliki peran penting dalam menjaga ketersediaan pangan nasional. Ketika kesejahteraan nelayan tertekan, dampaknya berpotensi meluas hingga terhadap keberlanjutan sektor perikanan Indonesia.

Selain nelayan, Zulhas juga menyoroti persoalan kesejahteraan petani. Kedua kelompok tersebut dinilai memiliki tantangan serupa, terutama terkait kemampuan memperoleh pendapatan yang layak dari sektor produksi pangan.

Dalam pandangan Zulhas, kondisi tersebut tidak dapat terus dibiarkan. Pemerintah perlu mencari langkah yang mampu memperkuat posisi petani dan nelayan agar manfaat ekonomi dari sektor pangan dapat dirasakan secara lebih adil.

Persoalan daya tawar menjadi salah satu hal penting yang perlu diperbaiki. Petani dan nelayan harus memiliki posisi yang lebih kuat dalam rantai ekonomi sehingga hasil produksi mereka tidak hanya memberikan keuntungan kepada pihak lain.

Nilai Tukar Nelayan (NTN) menjadi salah satu indikator yang menggambarkan kemampuan nelayan dalam memenuhi kebutuhan rumah tangga melalui pendapatan yang diperoleh dari kegiatan perikanan. Angka 103 menunjukkan kondisi yang masih perlu mendapat perhatian.

Zulhas menilai peningkatan kesejahteraan nelayan dan petani harus menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan. Sebab, kedua kelompok tersebut berada di garis depan dalam menyediakan berbagai kebutuhan pangan masyarakat.

Jika kesejahteraan produsen pangan tidak membaik, keberlanjutan sektor pangan juga dapat menghadapi tantangan. Karena itu, penguatan ekonomi nelayan dan petani dinilai perlu berjalan seiring dengan kebijakan ketahanan pangan.

Pemerintah juga menghadapi tantangan untuk memastikan kebijakan pangan tidak hanya berorientasi pada ketersediaan komoditas. Aspek kesejahteraan masyarakat yang bekerja langsung sebagai produsen pangan perlu menjadi perhatian utama.

Sorotan Zulhas terhadap kondisi nelayan dan petani sekaligus memperlihatkan pentingnya memperbaiki struktur ekonomi di sektor pangan. Penguatan daya tawar menjadi salah satu langkah yang dinilai penting untuk mempersempit kesenjangan.

Dengan posisi ekonomi yang lebih kuat, nelayan dan petani diharapkan mampu memperoleh manfaat yang lebih besar dari hasil kerja mereka. Kondisi tersebut juga dapat mendorong keberlanjutan usaha di sektor pangan.

Pemerintah dituntut menghadirkan kebijakan yang tidak hanya menyelesaikan persoalan jangka pendek. Perbaikan kesejahteraan harus dilakukan secara berkelanjutan agar nelayan dan petani tidak terus berada dalam kelompok masyarakat dengan tingkat ekonomi terbawah.

Zulhas menegaskan bahwa kondisi tersebut harus menjadi perhatian bersama. Peningkatan kesejahteraan nelayan dan petani dinilai penting bukan hanya bagi kelompok tersebut, tetapi juga bagi masa depan ketahanan pangan Indonesia.