Radarnesia.com – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi perhatian di Provinsi Jambi. Menghadapi kemarau dan potensi pengaruh El Nino, pemerintah telah menyiapkan 81 posko di wilayah rawan karhutla.
Namun, posko tersebut diminta tidak sekadar menjadi tempat berkumpulnya personel. Seluruh posko harus mampu menjadi pusat komando yang memastikan setiap informasi titik panas, asap, maupun indikasi kebakaran segera diterima, diverifikasi, dan ditindaklanjuti.
Ketua Sekretariat Bersama Pengelolaan Sumber Daya Hutan (SEKBER PSDH) Provinsi Jambi, Feri Irawan, menegaskan kecepatan respons menjadi kunci untuk mencegah kebakaran meluas.
“Posko jangan hanya menjadi tempat berkumpulnya personel. Posko harus menjadi pusat komando informasi dan respons cepat. Begitu ada indikasi kebakaran, informasi harus bergerak cepat dan petugas segera melakukan verifikasi lapangan,” kata Feri, Selasa, 11 Agustus 2026.
Luas Karhutla Jambi Melonjak
Feri mengingatkan, pengalaman penanganan karhutla dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan kebakaran tidak hanya menimbulkan kerusakan lingkungan, tetapi juga dapat memicu persoalan ekonomi, kesehatan, hingga sosial.
Data yang disampaikannya menunjukkan luas karhutla di Jambi pada 2023 mencapai sekitar 1.055 hektare. Setahun kemudian, angka tersebut melonjak signifikan menjadi sekitar 6.797 hektare.
Kenaikan tersebut menjadi peringatan bahwa upaya pencegahan tidak boleh menunggu api muncul dalam skala besar.
“Besarnya luasan tersebut menjadi pengingat bahwa pencegahan harus dilakukan sebelum memasuki periode puncak kemarau,” ujarnya.
Menurut Feri, dampak karhutla dapat dirasakan dari berbagai sektor. Dari sisi ekonomi, kebakaran berpotensi merusak tanaman, mengganggu aktivitas pertanian, meningkatkan biaya pemadaman, serta menimbulkan kerugian bagi masyarakat dan dunia usaha.
Dari sektor kesehatan, asap karhutla dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan sekaligus menghambat aktivitas masyarakat.
“Dari sisi kesehatan, asap kebakaran dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan dan mengganggu aktivitas masyarakat,” katanya.
Sementara dari aspek ekologi, karhutla dapat menyebabkan hilangnya vegetasi, biodiversitas, dan habitat satwa, serta meningkatkan emisi karbon.
“Karena itu, pencegahan karhutla harus kita lihat sebagai investasi bersama untuk melindungi ekonomi masyarakat, kesehatan publik, lingkungan, dan masa depan Provinsi Jambi,” ujar Feri.
Hotspot Harus Segera Di-Ground Check
Untuk mencegah kebakaran berkembang menjadi bencana lebih besar, Feri mendorong pemerintah memperkuat koordinasi Satgas Karhutla hingga tingkat tapak.
Setiap titik panas atau hotspot yang memiliki indikasi kebakaran juga harus segera diverifikasi melalui ground check.
Selain itu, kesiapan sumber air, personel, peralatan pemadaman, hingga jalur mobilisasi harus dipastikan sebelum kondisi darurat terjadi.
“Memastikan sumber air, personel, peralatan, dan jalur mobilisasi siap digunakan,” tuturnya.
Pengawasan terhadap wilayah rawan dan lokasi yang memiliki riwayat kebakaran berulang juga harus diperketat. Sistem komunikasi antarpihak harus berjalan cepat agar tidak terjadi keterlambatan dalam mengambil tindakan.
Dunia Usaha Diminta Perkuat Patroli
Feri juga meminta dunia usaha memastikan seluruh sarana dan prasarana pengendalian karhutla berfungsi optimal.
Patroli dan sistem deteksi dini perlu diperkuat, terutama di wilayah yang memiliki tingkat kerawanan tinggi.
“Dunia usaha memastikan seluruh sarana dan prasarana pengendalian karhutla berfungsi optimal serta memperkuat patroli dan sistem deteksi dini,” ujarnya.
Untuk kawasan gambut, pengelolaan tata air harus dilakukan sesuai ketentuan. Setiap indikasi kebakaran di wilayah kerja juga harus segera direspons dan dikoordinasikan dengan masyarakat serta pemerintah di sekitar konsesi.
Warga Jangan Buka Lahan dengan Cara Membakar
Pencegahan karhutla tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah dan dunia usaha. Masyarakat juga memiliki peran penting untuk menghentikan munculnya api sejak awal.
Feri mengimbau warga tidak membuka lahan dengan cara membakar. Masyarakat juga diminta segera melaporkan apabila menemukan asap atau titik api serta memperkuat peran Masyarakat Peduli Api (MPA) di tingkat desa.
“Masyarakat juga tidak membuka lahan dengan cara membakar dan segera melaporkan asap atau titik api serta memperkuat Masyarakat Peduli Api di tingkat desa,” jelasnya.
Masyarakat juga diharapkan aktif dalam patroli dan kegiatan pencegahan kebakaran. Di sisi lain, petugas yang melakukan pemadaman harus mendapat dukungan penuh di lapangan.
Feri kembali mengingatkan bahwa karhutla harus ditangani sejak gejala awal, bukan setelah api membesar dan asap mulai menyelimuti permukiman.
“Jangan menunggu api membesar. Jangan menunggu asap menyelimuti permukiman. Jangan menunggu bencana menjadi besar baru kita bergerak. Mari kita jaga Jambi bersama,” imbuhnya.
Menurutnya, keberhasilan menghadapi ancaman karhutla sangat bergantung pada kecepatan seluruh pihak dalam bertindak. Pemerintah, dunia usaha, masyarakat, aparat, dan seluruh elemen terkait harus bergerak dalam satu barisan.
“Jaga Jambi, jaga napas kita. Jangan biarkan asap kembali menyelimuti Bumi Sepucuk Jambi Sembilan Lurah,” tegas Feri.









