Radarnesia.com – Film Istimewa menghadirkan kisah perjuangan sekelompok anak penyandang disabilitas dalam menghadapi berbagai persoalan hidup, sekaligus menemukan makna keluarga, persahabatan, keberanian, dan harapan.

Film Istimewa mendapat sambutan hangat dalam pemutaran khusus di XXI Solo Paragon Mall, Kota Solo, Kamis malam, 13 Agustus 2026, sebelum resmi tayang pada 17 September.

Karya perdana rumah produksi Kairos tersebut mengisahkan lima anak penghuni Rumah Istimewa, yakni Nita, Ken, Aldo, Mul, dan Bimo, yang menjalani kehidupan penuh tantangan bersama.

Kelima anak itu kemudian nekat melakukan perjalanan jauh untuk mencari sosok yang mereka panggil Ayah, yaitu Pak Mahendra, setelah pria tersebut menghilang secara diam-diam.

Pak Mahendra diketahui pergi setelah mendapat vonis kanker stadium dua. Kepergiannya membuat anak-anak tersebut berusaha menemukan keberadaannya meski harus menghadapi berbagai situasi tidak terduga.

Dalam perjalanan, kepolosan mereka dimanfaatkan Aji untuk kepentingan pribadi. Pria tersebut memanfaatkan kemampuan para anak penyandang disabilitas melalui pementasan Parodi Wayang Orang yang kemudian menjadi viral.

Sutradara Ruben Adrian mengemas perjalanan tersebut melalui perpaduan drama, humor, dan pesan kemanusiaan. Konflik yang dekat dengan kehidupan sehari-hari membuat cerita terasa mudah diterima berbagai kalangan.

Film ini tidak hanya menempatkan anak penyandang disabilitas sebagai bagian dari cerita, tetapi juga memberi mereka ruang untuk menunjukkan kemampuan dan bakat di depan kamera.

Produser Abdullah Mansuri mengatakan film Istimewa hadir untuk menantang stigma yang selama ini melekat terhadap penyandang disabilitas, khususnya dalam industri perfilman nasional.

Mansuri yang juga menjadi ayah asuh di Yayasan Rumah Mans Indonesia menyebut proses produksi film menjadi pembuktian dari pembinaan yang telah dilakukan selama bertahun-tahun.

Menurut dia, kemampuan anak-anak tersebut seharusnya mendapat ruang untuk berkembang. Ia juga menyoroti masih adanya perundungan serta konten yang merendahkan penyandang disabilitas.

Mansuri menilai enam anak yang dibina melalui yayasan mampu menunjukkan bahwa keterbatasan fisik bukan alasan untuk menghilangkan kesempatan seseorang dalam berkarya dan meraih masa depan.

Pesan tersebut menjadi salah satu kekuatan utama film Istimewa. Cerita tidak sekadar mengajak penonton menikmati perjalanan para tokoh, tetapi juga mengubah cara pandang terhadap penyandang disabilitas.

Dari sisi pemeran, film ini melibatkan sejumlah aktor berpengalaman. Mathias Muchus dipercaya memerankan tokoh Ayah, sementara Ajil Ditto memainkan karakter Bagas dalam rangkaian cerita tersebut.

Agus Kuncoro berperan sebagai Aji, sosok yang memanfaatkan keadaan para anak. Yanni Melwani tampil sebagai Mba Kinan, sedangkan Ence Bagus memerankan Pak Satria.

Proses produksi film Istimewa berlangsung cukup panjang hingga mencapai sekitar dua tahun. Tahapannya meliputi pendekatan kepada pemain, persiapan, pelatihan, coaching, hingga proses pengambilan gambar.

Mansuri menjelaskan persiapan berlangsung selama tiga bulan, kemudian dilanjutkan coaching selama dua bulan. Setelah itu, seluruh proses syuting diselesaikan dalam waktu sekitar satu bulan.

Bambang Kurniawan, pemeran Bimo, mengaku menikmati pengalaman selama menjalani proses produksi. Kekompakan para pemain membuat kegiatan syuting berjalan lebih ringan karena mereka telah saling mengenal.

Menurut Bambang, salah satu pengalaman paling menghibur muncul ketika dirinya beradegan bersama Mustofa, pemeran Mul. Kelucuan Mustofa bahkan beberapa kali membuat adegan harus diulang.

Pengalaman tersebut sekaligus memperlihatkan suasana kekeluargaan yang terbangun selama produksi. Para pemain tidak hanya bekerja sebagai pemeran, tetapi juga saling mendukung sepanjang proses pembuatan film.

Bambang juga menyampaikan pesan kepada penyandang disabilitas di berbagai daerah agar tidak minder menghadapi kehidupan. Ia mengajak mereka tetap percaya diri dan terus berusaha.

Baginya, perbedaan kondisi bukan alasan untuk berhenti bermimpi. Setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk berkarya, berkembang, dan memberikan sesuatu yang berarti bagi lingkungan sekitarnya.

Film Istimewa akhirnya menawarkan hiburan sekaligus pesan sosial melalui perjalanan para tokohnya. Penonton diajak melihat perjuangan, persahabatan, keluarga, dan harapan dari sudut pandang yang berbeda.

Dengan cerita yang memadukan drama, humor, dan nilai kemanusiaan, film arahan Ruben Adrian tersebut dijadwalkan hadir di jaringan bioskop mulai 17 September 2026.