Radarnesia.com – Beban subsidi liquefied petroleum gas (LPG) di Indonesia mendekati Rp100 triliun seiring kenaikan harga minyak mentah dunia yang dipengaruhi gejolak geopolitik. Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia mengungkapkan, peningkatan harga minyak mentah turut mendorong kenaikan anggaran subsidi energi pemerintah.
Bahlil menjelaskan, besaran subsidi LPG sangat dipengaruhi oleh pergerakan harga rata-rata minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP). Ketika harga minyak masih berada pada level tertentu, pemerintah menanggung beban subsidi yang relatif lebih rendah dibandingkan saat harga mengalami kenaikan.
Menurut Bahlil, ketika harga ICP masih berada di kisaran US$70 per barel, total subsidi LPG tercatat sekitar Rp87 triliun.
Namun, situasi berubah ketika harga rata-rata minyak mentah meningkat ke rentang US$90 hingga US$100 per barel. Dalam kondisi tersebut, beban subsidi LPG melonjak hingga mendekati Rp100 triliun.
“Saat ICP-nya masih di US$ 70 per barel, itu subsidi kita mencapai Rp 87 triliun. Tetapi begitu ICP-nya rata-rata sekarang di angka US$ 90 sampai US$ 100 per barel, subsidi kita di atas hampir Rp 100 triliun,” ujar Bahlil, Jumat (16/10/2026).
Gejolak Geopolitik Tekan Anggaran Subsidi Energi
Kenaikan harga minyak mentah tidak terlepas dari dinamika geopolitik global yang memengaruhi pasar energi internasional. Ketidakpastian tersebut dapat mendorong perubahan harga minyak, sehingga berdampak terhadap kebutuhan anggaran pemerintah untuk menjaga keterjangkauan energi bagi masyarakat.
ICP menjadi salah satu indikator penting dalam perhitungan penerimaan dan pengeluaran negara yang berkaitan dengan sektor minyak dan gas bumi. Perubahan harga minyak mentah dapat memengaruhi berbagai komponen fiskal, termasuk biaya penyediaan energi bersubsidi.
Dalam konteks LPG, peningkatan harga minyak berpotensi memperbesar selisih antara biaya pengadaan energi dan harga yang dibayarkan konsumen. Ketika selisih tersebut meningkat, beban subsidi yang harus ditanggung pemerintah juga dapat bertambah.
Kondisi ini menjadi tantangan dalam menjaga keseimbangan antara perlindungan daya beli masyarakat dan keberlanjutan anggaran negara.
Subsidi LPG Jadi Tantangan Fiskal Pemerintah
Besarnya subsidi LPG menunjukkan bahwa kebijakan energi nasional masih menghadapi tekanan akibat perubahan harga komoditas global. Pemerintah perlu memperhitungkan perkembangan harga minyak mentah untuk menjaga ketersediaan energi sekaligus mengendalikan belanja negara.
Di satu sisi, subsidi berperan membantu masyarakat memperoleh LPG dengan harga yang lebih terjangkau. Di sisi lain, kenaikan biaya subsidi dapat mempersempit ruang fiskal apabila berlangsung dalam waktu lama.
Karena itu, perkembangan harga minyak dunia menjadi salah satu faktor yang perlu dicermati dalam pengelolaan anggaran energi nasional.
Pernyataan Bahlil tersebut menegaskan bahwa perubahan harga minyak mentah dari kisaran US$70 menjadi US$90–US$100 per barel dapat meningkatkan tekanan terhadap anggaran subsidi LPG secara signifikan.
Meski demikian, besaran subsidi pada periode berikutnya akan bergantung pada perkembangan harga minyak mentah, kondisi pasar energi, serta kebijakan pemerintah dalam mengelola subsidi.





