RADARNESIA.COM – Belakangan ini, pertanyaan mengenai apakah asbes menyebabkan kanker dan apakah atap asbes berbahaya bagi kesehatan kembali menjadi sorotan publik. Isu ini mendadak viral di media sosial setelah beredar pernyataan kontroversial yang mengaitkan penggunaan atap seng dan asbes dengan risiko pemicu kanker paru-paru. Sontak, tren pencarian masyarakat di Google terkait bahaya material bangunan ini mengalami peningkatan signifikan.
Lantas, apakah asbes menyebabkan kanker secara medis, dan seberapa besar dampaknya bagi penutup rumah kita? Jawabannya adalah ya. Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization atau WHO) secara resmi telah mengklasifikasikan asbes sebagai bahan karsinogenik (zat pemicu kanker) Kelompok 1 bagi manusia. Penetapan ini menegaskan bahwa paparan serat asbes memiliki bukti ilmiah yang sangat kuat dalam memicu timbulnya keganasan pada organ tubuh, terutama saluran pernapasan.
Penjelasan Medis: Bagaimana Serat Asbes Merusak Paru-Paru?
Penjelasan mendalam mengenai bahaya material ini dipaparkan oleh Pakar Kesehatan Paru sekaligus Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Prof. Tjandra Yoga Aditama. Beliau menjelaskan bahwa asbes terdiri dari serat-serat mikroskopis yang sangat halus dan mudah terlepas ke udara saat material mengalami kerusakan, pelapukan, atau pemotongan.
Ketika udara yang tercemar serat asbes dihirup, partikel mikroskopis tersebut akan masuk jauh ke dalam saluran napas hingga mengendap di jaringan paru-paru. Karena sifatnya yang tahan lama dan sulit diuraikan oleh sistem kekebalan tubuh, serat ini menancap secara permanen dan memicu peradangan kronis selama bertahun-tahun.
Proses peradangan berulang inilah yang lambat laun merusak DNA sel dan memicu transformasi sel normal menjadi sel kanker.
Jenis Kanker yang Dipicu oleh Paparan Asbes
Paparan serat asbes tidak hanya berdampak pada satu organ. Riset medis mencatat sejumlah penyakit berat yang berkaitan langsung dengan material ini:
-
Mesotelioma: Kanker langka dan sangat agresif yang menyerang mesotelium, yaitu membran pelindung yang melapisi paru-paru (pleura) serta organ perut. Hampir seluruh kasus mesotelioma berakar dari riwayat paparan asbes.
-
Kanker Paru-Paru: Risiko kanker paru meningkat berlipat ganda pada individu yang terpapar asbes, terutama jika orang tersebut memiliki kebiasaan merokok.
-
Kanker Laring dan Ovarium: Studi Badan Internasional untuk Penelitian Kanker (IARC) menemukan hubungan kausal antara paparan asbes dengan kanker pada tenggorokan (laring) dan indung telur (ovarium).
-
Asbestosis: Walaupun bukan kanker, penyakit paru kronis ini menyebabkan pembentukan jaringan parut pada paru-paru yang mengakibatkan sesak napas permanen.
Mengapa Atap Asbes di Rumah Bisa Sangat Berbahaya?
Penggunaan asbes sebagai atap bangunan memang sangat populer di Indonesia karena harganya yang terjangkau dan ketahanannya terhadap panas. Namun, risiko kesehatan mengintai saat lembaran asbes mulai menua, retak, atau ketika proses instalasi dilakukan tanpa perlindungan memadai.
Aktivitas seperti menggergaji, memaku, atau membersihkan atap asbes yang lapuk dapat melepaskan jutaan serat halus ke lingkungan sekitar rumah. Serat ini bisa mengendap di perabotan, pakaian, hingga terhirup oleh anggota keluarga tanpa disadari. Gejala penyakit akibat asbes pun tidak muncul seketika, melainkan membutuhkan masa inkubasi antara 20 hingga 50 tahun setelah paparan pertama.
Langkah Pencegahan dan Alternatif Pengganti Atap Asbes
Mengingat bahaya laten yang ditimbulkannya, puluhan negara di dunia telah melarang penggunaan asbes secara total. Bagi masyarakat yang ingin meminimalkan risiko kesehatan di rumah, beberapa langkah proteksi dapat dilakukan:
-
Hindari Membongkar Sendiri: Jika harus mengganti atau memperbaiki atap asbes, gunakan jasa profesional yang dilengkapi alat pelindung diri (APD) standar pernapasan (masker N95/hepa filter).
-
Jangan Memotong atau Mengamplas: Hindari tindakan merusak fisik lembaran asbes agar seratnya tidak terlepas ke udara.
-
Beralih ke Material Aman: Saat membangun atau merenovasi rumah, pertimbangkan material atap yang lebih ramah kesehatan, seperti genteng tanah liat, genteng beton, baja ringan, atau atap berbahan dasar selulosa bebas asbes (asbestos-free).
Kesimpulannya, kekhawatiran masyarakat terhadap bahaya atap asbes bukanlah sekadar rumor. Edukasi mengenai bahaya bahan karsinogenik ini penting untuk ditingkatkan agar masyarakat dapat mengambil keputusan yang lebih bijak demi kesehatan jangka panjang keluarga.








