Mengenal Zat Pewarna Karmin Diharamkan Bahtsul Masail NU Jatim, Beda Pendapat dengan MUI

Radarnesia.com – Masail Nahdlatul Ulama (NU) Jawa Timur (Jatim) melarang masyarakat untuk mengonsumsi produk olahan makanan dan minuman yang di dalamnya terdapat zat pewarna karmin.

Mereka mengatakan bahwa zat pewarna yang berasal dari bangkai serangga ini dinilai haram dan najis untuk dikonsumsi. Keputusan ini diambil setelah mempertimbangkan aspek keagamaan dan hukum Islam.

Bacaan Lainnya

Katib Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jatim, KH Romadlon Chotib, menjelaskan bahwa pewarna karmin sering kali diidentifikasi dalam makanan atau produk kosmetik dengan kode E-120. Oleh karena itu, ia menyarankan agar kita bisa menghindari produk-produk yang mengandung kode ini.

Baca Juga:  Kebakaran Hanguskan 7 Rumah di Permukiman Padat Penduduk Kawasan Tambora Jakbar

“Dalam bahtsul masail, kami telah memutuskan bahwa penggunaan karmin ini diharamkan menurut Imam Syafi’i, dan kami adalah penganut Madzhab Syafi’iyah,” ujarnya dalam Konferensi Pers Hasil Bahtsul Masail LBMNU Jatim di Kantor PWNU Jatim.

Beda Pendapat dengan MUI

Sementara itu, hal ini justru bertentangan dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI), karena sebelumnya dari keterangan LP POM MUI dalam rapat komisi fatwa MUI pada 4 Mei 2011 silam menyatakan bahwa serangga atau sejenis kutu daun disebut cochineal yang dijadikan bahan pewarna makanan atau minuman hukumnya halal, sepanjang itu bermanfaat dan tidak membahayakan.

Baca Juga:  Bawaslu Ingatkan CFD Tak Boleh Digunakan Sebagai Ruang Kegiatan Politik

Dilansir dari laman halalmui, Prof. Dr. Ir. Sedarnawati Yasni, M.Agr, dosen Ilmu dan Teknologi Pangan IPB University sekaligus auditor halal Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI) menerangkan, karmin dibuat dari serangga Cochineal (Dactylopius coccus) atau kutu daun yang menempel pada kaktus pir berduri (genus Opuntia).

Serangga jenis ini banyak ditemukan di Amerika Tengah dan Selatan. Saat ini Peru dikenal sebagai penghasil karmin terbesar di dunia, mencapai 70 ton per tahun.

Baca Juga:  Jadwal Bentrok, Dewas KPK Siap Bacakan Vonis Etik Firli Bahuri

Apa itu Karmin?

Sebagai informasi, Karmin adalah salah satu zat pewarna alami yang biasa digunakan sebagai pewarna makanan atau kosmetik. Sebagai bahan pewarna makanan, karmin sering digunakan untuk mempercantik tampilan makanan kemasan dan olahan sehingga tampak lebih menarik.

Berbagai jenis makanan yang beredar di pasaran, seperti es krim, susu, yoghurt, makanan ringan anak-anak lainnya juga banyak yang menggunakan bahan pewarna karmin. Karmin juga bisa digunakan untuk mewarnai produk perawatan tubuh seperti shampo dan lotion, serta make-up seperti eyeshadow.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *