Radarnesia.com – Beruang kutub dapat tidur hingga 18 jam sehari saat musim panas Arktik sebagai strategi menghemat energi ketika mencairnya es laut menghambat perburuan anjing laut yang menjadi mangsa utamanya sepanjang musim panas.
Fenomena tersebut berlangsung ketika Lingkaran Arktik memasuki periode hangat, ditandai pencairan lapisan es, terbukanya daratan, serta munculnya rerumputan hijau dan bunga liar berwarna ungu kemerahan yang menjadi ciri khas kawasan tersebut setiap tahun.
Alih-alih menunjukkan kemalasan, waktu istirahat panjang membantu predator puncak itu menekan penggunaan energi selama kesempatan memperoleh makanan berkalori tinggi menjadi sangat terbatas akibat perubahan habitat ketika sumber makanan utama sulit dijangkau dari daratan.
Es laut menjadi wilayah penting bagi beruang kutub karena permukaan tersebut menyediakan tempat untuk mengintai anjing laut dari dekat lubang pernapasan sebelum melakukan serangan ketika kondisi es masih memungkinkan proses perburuan berlangsung.
Beruang kutub mengandalkan lemak anjing laut sebagai sumber energi utama untuk mempertahankan kondisi tubuh sekaligus menghadapi lingkungan Arktik yang memiliki suhu sangat rendah sepanjang tahun yang mereka butuhkan untuk menjaga suhu tubuh tetap stabil.
Saat musim panas menaikkan suhu, permukaan laut yang membeku mulai pecah dan menyusut sehingga ruang berburu beruang kutub semakin terbatas bahkan menghilang dari wilayah tertentu di sejumlah kawasan yang sebelumnya menjadi lokasi perburuan penting.
Perubahan kondisi tersebut menurunkan peluang mendapatkan mangsa, sehingga beruang kutub menghadapi pilihan sulit antara mengeluarkan tenaga mencari makanan atau mempertahankan cadangan lemak tubuh untuk kebutuhan berikutnya agar mampu bertahan sampai kondisi lingkungan kembali mendukung.
Beruang kutub kemudian mengurangi pergerakan dan memperpanjang waktu tidur untuk menekan pembakaran kalori, terutama ketika perjalanan di daratan tidak menjanjikan hasil dan justru menguras energi selama periode ketika sumber makanan berenergi tinggi sulit diperoleh.
Strategi hemat energi itu memungkinkan cadangan lemak bertahan lebih lama hingga es laut kembali terbentuk, kemudian kegiatan berburu dapat berlangsung normal dengan peluang memperoleh mangsa lebih besar setelah masa sulit selama berbulan-bulan di daratan.
Selama periode hangat, individu tertentu terlihat berbaring berjam-jam di daratan, termasuk kawasan berumput yang ditumbuhi bunga fireweed berwarna merah muda hingga ungu cerah yang tumbuh subur setelah lapisan salju dan es mencair.
Pemandangan tersebut menciptakan kontras kuat antara tubuh putih beruang kutub dan hamparan bunga musim panas yang menghiasi lanskap Arktik selama periode pencairan es sehingga suasana tersebut terlihat sangat berbeda dari habitat musim dingin.
Meski tampak berada di lingkungan penuh tumbuhan, beruang kutub tetap termasuk karnivora dan tidak dapat memenuhi kebutuhan nutrisi hanya dengan memakan rumput maupun bunga untuk memenuhi kebutuhan energi hariannya secara memadai.
Beberapa individu sesekali mengonsumsi buah beri, telur burung, rerumputan, atau bangkai yang mereka temukan ketika berada jauh dari wilayah laut dan sulit berburu sebagai kesempatan tambahan ketika persediaan makanan sangat terbatas.
Namun, makanan daratan tersebut hanya berperan sebagai pelengkap karena kandungan energinya tidak sebanding dengan lemak yang diperoleh dari anjing laut sebagai sumber utama sehingga perannya terhadap kelangsungan hidup tetap relatif kecil.
Karena itu, musim panas menjadi periode penuh tantangan bagi beruang kutub, terutama ketika mereka harus mengandalkan simpanan energi hasil perburuan selama musim dingin dan musim semi serta menjaga tubuh tetap siap menghadapi perubahan musim berikutnya.
Semakin sedikit energi yang terbuang untuk aktivitas tanpa hasil, semakin besar peluang beruang kutub mempertahankan kondisi tubuh sampai musim berburu berikutnya dimulai sebelum mereka kembali memperoleh akses menuju mangsa utama.
Ketika suhu kembali menurun, pembentukan es laut secara bertahap menyediakan jalur menuju habitat perburuan yang sangat dibutuhkan oleh predator tersebut untuk memperoleh makanan yang menjadi tanda dimulainya kembali musim perburuan di laut.
Beruang kutub kemudian meninggalkan daratan dan kembali menjelajah permukaan es untuk mencari anjing laut serta memulihkan cadangan lemak yang menipis selama masa panas setelah kondisi habitat mulai kembali mendukung aktivitas mencari makan.
Perubahan iklim menambah tekanan karena periode pencairan es laut berlangsung lebih panjang dibandingkan kondisi beberapa dekade sebelumnya berdasarkan pengamatan para peneliti di kawasan Arktik yang berlangsung dalam beberapa wilayah Arktik selama beberapa tahun terakhir.
Musim tanpa akses memadai menuju makanan berenergi tinggi yang semakin panjang membuat beruang kutub harus bertahan lebih lama menggunakan cadangan lemak tubuh mereka sebelum mereka dapat kembali memperoleh energi dari hasil perburuan laut.
Jika pencairan terus berlangsung lebih lama, kebutuhan menghemat energi menjadi semakin penting karena masa menunggu terbentuknya kembali habitat berburu ikut memanjang setiap tahun sebelum akses terhadap mangsa utama kembali tersedia secara luas.
Kebiasaan tidur hingga 18 jam memperlihatkan kemampuan adaptasi beruang kutub dalam menghadapi perubahan ketersediaan makanan selama musim panas Arktik yang semakin menantang dalam kondisi lingkungan yang berubah akibat pemanasan kawasan utara.
Di balik pemandangan beruang kutub yang beristirahat di antara bunga fireweed, tersimpan strategi bertahan hidup untuk melewati masa sulit sebelum es laut kembali membeku dan menjaga peluang hidup sampai habitat berburu kembali tersedia.







