Radarnesia.com – Hobi anak Gen X dan Gen Milenial pada era 1980-an hingga 1990-an ternyata banyak berasal dari aktivitas sederhana yang dilakukan untuk mengisi waktu luang, mulai membaca buku, bermain kartu, menggambar, hingga menciptakan permainan sendiri.
Hobi anak Gen X dan Gen Milenial tersebut kembali menjadi perhatian setelah YourTango membahas enam aktivitas masa kecil yang dinilai dapat membantu mengasah kemampuan berpikir, kreativitas, daya ingat, dan pemecahan masalah.
Fenomena itu tidak berarti anak-anak generasi tersebut otomatis lebih cerdas dibandingkan generasi sekarang. Setiap generasi tumbuh dalam lingkungan berbeda, sehingga pengalaman masa kecil juga membentuk kemampuan yang berbeda.
Namun, aktivitas yang dilakukan anak pada masa itu memang sering menuntut keterlibatan aktif tanpa bantuan teknologi secara terus-menerus. Anak perlu menggunakan imajinasi, menyusun strategi, mengingat aturan, serta mencari solusi ketika menghadapi masalah.
Penelitian terhadap lingkungan belajar anak juga memberikan gambaran serupa. Studi berbasis data 9.793 anak usia tiga tahun menemukan hubungan kecil tetapi signifikan antara aktivitas membaca, bermain, menggambar, dan kemampuan penalaran nonverbal.
Membaca Buku untuk Mengembangkan Daya Pikir
Membaca buku menjadi salah satu kebiasaan yang banyak dilakukan anak pada era 1980-an dan 1990-an. Aktivitas tersebut memberikan kesempatan kepada anak untuk memahami cerita, mengingat informasi, sekaligus melihat sudut pandang tokoh.
Kebiasaan membaca untuk kesenangan juga berbeda dengan membaca karena tuntutan sekolah. Anak memiliki kesempatan memilih bacaan sesuai minat, kemudian mengikuti alur cerita dengan kemampuan memahami dan menghubungkan informasi.
Karena itu, membaca tidak sekadar mengisi waktu luang. Aktivitas tersebut dapat menjadi latihan mental yang melibatkan pemahaman bahasa, memori, perhatian, dan kemampuan mengikuti hubungan sebab-akibat dalam sebuah cerita.
Permainan Kartu Melatih Strategi
Permainan kartu dan permainan papan juga menjadi bagian dari hiburan anak pada masa tersebut. Permainan semacam ini membuat anak harus memahami aturan, mempertimbangkan pilihan, serta memperkirakan konsekuensi dari tindakan.
Ketika permainan dilakukan bersama teman atau keluarga, anak juga berhadapan dengan keputusan orang lain. Situasi tersebut membuat mereka belajar menyesuaikan strategi sekaligus memahami bahwa hasil tidak selalu sesuai harapan.
Penelitian mengenai aktivitas belajar di rumah menunjukkan permainan memiliki hubungan dengan kemampuan penalaran nonverbal dan kosakata pada anak usia dini. Temuan tersebut memperkuat pentingnya aktivitas bermain dalam lingkungan perkembangan anak.
Menggambar Membuka Ruang Kreativitas
Menggambar menjadi aktivitas lain yang mudah dilakukan tanpa membutuhkan perangkat mahal. Anak dapat menuangkan gagasan melalui garis, bentuk, warna, dan gambar sesuai imajinasi tanpa harus menghasilkan karya yang sempurna.
Proses tersebut memberi ruang bagi anak untuk mencoba, melakukan kesalahan, lalu memperbaiki hasilnya. Dengan demikian, menggambar dapat menjadi sarana untuk mengeksplorasi ide sekaligus melatih kemampuan berpikir secara fleksibel.
Studi mengenai aktivitas menggambar juga menunjukkan adanya kaitan dengan perkembangan kognitif dan kreativitas anak. Penelitian tersebut menemukan peningkatan pada sejumlah indikator seperti keberagaman ide, ekspresi visual, serta kemampuan mengingat.
Bermain di Luar dan Menciptakan Permainan Sendiri
Anak-anak pada era 1980-an dan 1990-an juga banyak menghabiskan waktu bermain di luar rumah. Mereka tidak selalu memiliki permainan dengan aturan baku sehingga harus menciptakan aturan sendiri bersama teman.
Kondisi tersebut mendorong anak menggunakan benda sederhana di sekitar sebagai bagian dari permainan. Mereka kemudian menyusun aturan, membagi peran, menyelesaikan perselisihan, serta mengubah permainan ketika menemukan masalah.
Kajian mengenai permainan dengan material terbuka menunjukkan aktivitas bermain dapat berkaitan dengan kemampuan pemecahan masalah, kreativitas, penalaran, perhatian, dan berbagai aspek perkembangan kognitif.
Bukan Sekadar Nostalgia Generasi Lama
Pembahasan mengenai hobi anak Gen X dan Gen Milenial pada akhirnya bukan sekadar nostalgia terhadap masa kecil sebelum smartphone dan media sosial mendominasi kehidupan sehari-hari. Nilai pentingnya terletak pada proses yang terjadi ketika anak menjalani aktivitas tersebut.
Membaca, bermain kartu, menggambar, dan menciptakan permainan sendiri membuat anak terlibat langsung dalam aktivitas yang membutuhkan perhatian dan keputusan. Setiap kegiatan memberikan bentuk stimulasi berbeda tanpa harus terasa seperti pembelajaran formal.
Karena itu, orang tua tidak perlu meniru seluruh pola pengasuhan masa lalu. Hal yang lebih penting adalah menyediakan waktu bagi anak untuk membaca, bermain, berkarya, bereksplorasi, dan menyelesaikan masalah secara mandiri.
Dengan demikian, hobi sederhana tidak dapat disebut sebagai penyebab tunggal kecerdasan seseorang. Namun, berbagai penelitian menunjukkan aktivitas belajar dan bermain tertentu memiliki hubungan dengan perkembangan kemampuan kognitif anak.






