Scroll untuk baca artikel
Nusantara

Genjot Produktivitas, Pemerintah Luncurkan Taksi Alsintan Bun Sawit

×

Genjot Produktivitas, Pemerintah Luncurkan Taksi Alsintan Bun Sawit

Sebarkan artikel ini
Screenshot 2023 07 18 12 39 06 03 Genjot Produktivitas, Pemerintah Luncurkan Taksi Alsintan Bun Sawit

Radarnesia.com – Kementerian Pertanian (Kementan) terus menggenjot produksi kelapa sawit yang merupakan komoditas pertanian penyumbang terbesar devisa negara, sebagai salah satu upaya memperkuat posisi sektor pertanian dan pertumbuhan ekonomi nasional menghadap dampak perubahan iklim global dan tantangan lainnya.

Salah satunya upaya meningkatkan produksi kelapa sawit yakni dengan meluncurkan program Taxi Alat Mesin Pertanian Perkebunan (Alsintan Bun) Sawit, kali ini dilakukan di Provinsi Sumatra Selatan (Sumsel).

Scroll untuk baca artikel
Tutup Iklan

“Taxi Alsintan Bun Sawit itu merupakan program untuk akselerasi peningkatan produksi kelapa sawit yang mendukung program PSR (Peremajaan Sawit Rakyat, red) yang tengah digenjot pemerintah. Dalam upaya peningkatan produktivitas dan produksi kelapa sawit, sentuhan teknologi yaitu mekanisasi pertanian sangat berperan penting. Oleh karena itu, hari ini kita luncurkan Program Taxi Alsintan Bun Sawit di Sumatra Selatan ini,” demikian dikatakan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (Mentan SYL) bersama Gubernur Sumatra Selatan, Herman Deru pada panen perdana program PSR di Kecamatan Teluk Gelam, Kabupaten OKI, Sumatra Selatan, Senin, (17/72023).

Baca Juga:  Sani: Santri Ponpes Irsyadul ‘Ibad Cikal Bakal Generasi Penerus Bangsa

Ia menyebutkan komoditas kelapa sawit hingga saat ini tetap eksis dan bahkan menjadi penopang komoditas ekspor pertanian, sehingga upaya peningkatan produksi dan produktivitasnya harus terus dilakukan apalagi dunia khususnya Indonesia saat ini dihadapkan pada tantangan perubahan iklim ekstrim. Dari data BPS, minyak kelapa sawit adalah komoditas terbesar dalam kontribusi ekspor subsektor perkebunan yaitu sebesar 70,50 persen dan terbesar untuk keseluruhan nilai ekspor sektor pertanian yaitu sebesar 62,18 persen.

“Indonesia merupakan produsen minyak kelapa sawit terbesar di dunia tentunya dalam penanganan sawit dari hulu hingga hilir sangat membutuhkan mekanisasi modern. Apalagi setiap tahun program PSR ditargetkan seluas 180.000 hektar yang tersebar di 21 provinsi sentra peremajaan sawit rakyat. Menyukseskan program itu bukan dengan cara biasa atau lama, tapi harus dengan mekanisasi pertanian modern,” terangnya.

Baca Juga:  Polisi Tangkap Empat Pelaku Begal di Inhil Viral di Media Sosial

“Saya mengapresiasi adanya kerjasama antara Direktorat Jenderal Perkebunan dan Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian dalam menginisiasi model taksi alat mesin perkebunan. Program itu diharapkan dapat menekan biaya usaha kelapa sawit seminimal mungkin. Paket ini menyediakan alsin mulai dari pengolahan lahan, tanam, budidaya, panen yang dapat di akses oleh petani,” pinta Mentan SYL.

Direktur Jenderal Perkebunan Kementan, Andi Nur Alam Syah menambahkan pada 2023, Kementan telah melakukan langkah-langkah strategis dalam rangka akselerasi pencapaian peremajaan sawit rakyat. Diawali dengan revisi Permentan Nomor 03 tahun 2022 menjadi Permentan Nomor 19 tahun 2023, selain itu koordinasi dengan asosiasi petani kelapa sawit, Perusahaan Perkebunan, Dinas yang membidangi Perkebunan tingkat Provinsi dan Dinas yang membidangi perkebunan tingkat kabupaten.

Baca Juga:  Satreskrim Polres Cilegon Tangkap Dua Calo Viral Peras Penumpang di Pelabuhan Merak

“Terkait dengan upaya pencapaian peningkatan produksi dan efisiensi, perlu dilakukan upaya mengatasi kesulitan mencari tenaga kerja kebun sehingga perlu dioptimalkan pemanfaatan mekanisasi untuk komoditas kelapa sawit. Taksi Alsintan Bun Sawit ini dengan nilai 1 Paket untuk tiap luasan 200 hektare sebesar Rp3,1 miliar. Paket tersebut terdiri dari 1 unit TR4 90 HP, 2 unit TR4 55 HP, 100 unit alat panen (dodos), 100 unit alat panen (egrek) dan 10 unit alat angkut panen (Crawler Dumper),” sebutnya.

“Kehadiran Taxi Alsintan Bun Sawit ini sangat urgen peranya dan harus disukseskan semua pihak. Ini mengingat produktivitas sawit nasional baru mencapai 3 sampai 4 ton per hektar setara CPO. Jika kondisi itu dibiarkan, dapat mengancam masa depan sawit rakyat Indonesia jika tidak lakukan suatu langkah komprehensif,” tambah Andi.