RADARNESIA.COM — Provinsi Jambi diminta untuk bergerak cepat menangkap peluang dari transformasi besar ekonomi global di Laut China Selatan. Kehadiran Hainan Free Trade Port (FTP) atau Pelabuhan Perdagangan Bebas Hainan di Tiongkok harus dimanfaatkan sebagai pintu gerbang baru untuk menggenjot volume ekspor daerah.

Pesan kuat tersebut disampaikan oleh Pembina Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Pusat, Mursyid Sonsang, usai menyimak langsung pemaparan strategis dari manajemen raksasa logistik dunia, Cosco Shipping Lines, di Haikou, Provinsi Hainan, Tiongkok, baru-baru ini.

“Penjelasan dari Cosco ini sangat penting untuk kita pahami. Hainan tidak lagi hanya dilihat sebagai destinasi wisata, tetapi sudah bertransformasi menjadi pusat logistik dan perdagangan yang memengaruhi peta ekonomi kawasan, termasuk Indonesia. Jambi jangan mau hanya jadi penonton!” tegas Mursyid Sonsang.

Mantan Ketua PWI Provinsi Jambi dan mantan Ketua IKAL Lemhannas RI Jambi ini hadir langsung untuk melihat bagaimana Tiongkok membangun poros logistik baru. Proyek nasional ini diproyeksikan menjadi penghubung utama arus barang antara Asia Tenggara, Asia Timur, dan Samudra Hindia.

Dalam pertemuan tersebut, tim Cosco Shipping Lines memaparkan peta jalur pelayaran dan pusat logistik yang terintegrasi dengan Hainan FTP. Wilayah ini dirancang khusus dengan kebijakan kepabeanan, investasi, dan pajak yang jauh lebih terbuka, serta menerapkan sistem operasional komprehensif sejak akhir 2025.

Mursyid menilai, kedekatan geografis dan dukungan infrastruktur kelas dunia dari Hainan FTP mampu memangkas waktu tempuh serta biaya logistik ekspor-impor secara signifikan.

“Indonesia, termasuk Provinsi Jambi, memiliki potensi besar untuk terhubung dengan jalur ini. Komoditas unggulan kita seperti Crude Palm Oil (CPO), karet, batu bara, hingga produk UMKM harus bisa mencari peluang baru melalui konektivitas yang dibangun Cosco dan Hainan FTP,” jelasnya.

Sebagai tokoh pers dan kebangsaan, suami dari Dr. Asnelly Ridha Daulay ini mengingatkan pentingnya pemahaman terkait perubahan geopolitik dan geoekonomi agar Indonesia tidak sekadar menjadi pasar. Di sinilah media siber di bawah naungan JMSI mengambil peran untuk mengedukasi publik dan pemangku kebijakan di daerah.

Menengok Pelabuhan Yangpu: ‘Hong Kong Baru’ Penggerak Rantai Pasok

Kunjungan ke Hainan ini merupakan bagian dari undangan resmi All China Journalists Association (ACJA) kepada delegasi JMSI. Pada Kamis (16/7/2026), delegasi JMSI juga meninjau langsung fasilitas operasional di Pelabuhan Yangpu yang dikelola oleh Cosco Shipping Lines.

Ketua Umum JMSI, Dr. Teguh Santosa, yang memimpin delegasi tersebut mengakui bahwa Hainan memegang peranan kunci dalam konektivitas perdagangan internasional di kawasan Laut China Selatan.

Pelabuhan Yangpu kini diposisikan sebagai pilar utama dalam Koridor Perdagangan Darat-Laut Internasional Baru (New International Land-Sea Trade Corridor), bagian dari inisiatif Belt and Road.

Keunggulan Hainan FTP meliputi:

  • Insentif Tarif Super Longgar: Menerapkan sistem bea cukai “pelonggaran di perbatasan, pengawasan ketat di dalam negeri”.

  • Konektivitas Global: Didukung jaringan Cosco Shipping Lines yang mencakup lebih dari 1.500 pelabuhan di dunia.

  • Hub Distribusi Asia Pasifik: Memperpendek waktu tunggu arus barang dari Asia Tenggara (seperti Thailand dan Vietnam) menuju daratan Tiongkok.

Jembatan Bisnis Melalui ICCI dan E-Commerce

Bagi eksportir Indonesia, Hainan FTP menawarkan kebijakan tarif nol persen untuk banyak kategori barang. Ini menjadi angin segar bagi produk unggulan lain seperti kopi, rempah-rempah, hasil laut, hingga buah tropis untuk masuk ke pasar Tiongkok dengan biaya yang lebih kompetitif.

Sinergi ekonomi ini kian diperkuat oleh peran Kamar Dagang Indonesia di Hainan (Indonesian Chamber of Commerce in Hainan / ICCI). ICCI aktif bertindak sebagai jembatan bagi para pelaku bisnis lokal untuk beradaptasi dengan aturan perdagangan internasional berstandar tinggi, termasuk pemanfaatan platform e-commerce lintas batas.

Transformasi Hainan menjadi “Hong Kong baru” adalah momentum emas bagi Indonesia, khususnya daerah kaya komoditas seperti Jambi. Pilihan kini ada di tangan para pemangku kebijakan dan pelaku usaha: mengambil peran di rantai pasok global atau melewatkan peluang emas ini begitu saja.