RADARNESIA.COM – Industri batik lokal Jambi tidak hanya menjadi simbol kelestarian budaya, tetapi juga penggerak roda ekonomi daerah. Namun, di balik keindahan motifnya, persoalan limbah cair sisa pewarnaan sering kali menjadi tantangan lingkungan yang luput dari perhatian.

Merespons tantangan tersebut, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Jambi (LPPM UNJA) mengambil langkah nyata. Mereka menyerahkan sepuluh unit alat filtrasi limbah kepada para pengrajin Koperasi Batik Kajang Lako Jambi di Sanggar Batik Selaras Pinang Masak, pada Senin (20/7/2026).

Kepala LPPM UNJA, Prof. Amirul Mukminin, M.Sc. Ed., PhD., menegaskan pentingnya keseimbangan antara produksi dan kelestarian alam. Menurutnya, inovasi ini adalah bentuk kepedulian nyata akademisi terhadap masa depan bumi dan industri lokal.

“Pengelolaan limbah yang baik merupakan langkah nyata dalam menjaga kualitas lingkungan sekaligus meningkatkan keberlanjutan industri batik lokal,” ujar Prof. Amirul di sela-sela kegiatan.

Wujudkan Visi Kampus Berdampak dan Target SDGs

Kegiatan yang mengusung tema “Pendampingan Penerapan Green Accounting dan Pengelolaan Limbah Batik” ini bukan sekadar seremonial. Program ini merupakan bagian dari implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi sekaligus bentuk dukungan terhadap “Sustainable Development Goals” (SDGs), khususnya pada aspek konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab.

Bagi Prof. Amirul, inisiatif ini menjadi wujud konkret dari visi “Kampus Berdampak” yang digagas oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Visi ini menekankan bahwa hasil riset dan pengabdian akademisi tidak boleh berhenti di ruang kuliah atau jurnal ilmiah saja, melainkan harus menyentuh dan membawa manfaat langsung bagi masyarakat luas.

“LPPM Universitas Jambi berkomitmen untuk terus mendampingi para pengrajin melalui kegiatan monitoring, evaluasi, serta penelitian lanjutan, sehingga inovasi yang telah diperkenalkan dapat diterapkan secara berkelanjutan,” tambah Prof. Amirul. Ia menegaskan bahwa penyerahan alat filtrasi ini adalah awal dari pendampingan jangka panjang, bukan titik akhir program.

Rangkaian acara diawali dengan diskusi interaktif yang dipandu oleh pakar di bidangnya. Ketua Tim Pengabdian, Dr. Azolla Degita Azis, MBA., M.Ak., CA., bersama Dosen Teknik Lingkungan UNJA, Merisa Rahma Mawaddah, S.Si., M.Sc., memperkenalkan konsep “Material Flow Cost Accounting” (MFCA).

Konsep “Green Accounting” atau akuntansi hijau ini mengajak para pelaku usaha batik untuk:

Mengubah Pola Pikir: Tidak hanya berorientasi pada keuntungan materi semata (profit).

Transparansi Biaya: Menghitung secara cermat biaya limbah yang dihasilkan dari proses produksi.

Efisiensi Produksi: Mendorong efisiensi bahan baku guna meminimalkan sisa pembuangan yang merusak alam.

Setelah sesi teori, para pengrajin langsung diajak menyaksikan demonstrasi perakitan dan simulasi penyaringan limbah cair pewarnaan batik. Menariknya, media filtrasi yang dirancang oleh tim UNJA ini dibuat sederhana, ekonomis, dan mudah dioperasikan. Karakteristik ini sengaja dipilih agar alat tersebut bisa langsung diadopsi oleh industri batik skala rumah tangga (UMKM) tanpa membebani biaya operasional mereka.

Langkah strategis yang diinisiasi oleh LPPM UNJA ini mendapat apresiasi positif dari Pemerintah Provinsi Jambi. Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jambi, Ari Ridho Fadila, menilai program pendampingan ini sangat sejalan dengan visi pemerintah daerah.

“Kami sangat mengapresiasi langkah UNJA. Program pendampingan ini selaras dengan upaya pemerintah dalam mengembangkan industri hijau yang berdaya saing tinggi namun tetap berwawasan lingkungan,” kata Ari Ridho.

Ia juga menambahkan bahwa sinergi triple-helix seperti ini adalah formula terbaik untuk memajukan daerah. “Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan pelaku usaha menjadi kunci utama dalam memperkuat keberlanjutan industri kreatif daerah,” pungkasnya.

Melalui sinergi ini, batik Jambi diharapkan tidak hanya dikenal karena keindahan coraknya di kancah nasional, tetapi juga menjadi pelopor industri tekstil ramah lingkungan yang menginspirasi daerah lain.