Radarnesia.com – Beberapa waktu terakhir banyak beredar video mengenai keluhan menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dibagikan saat Ramadan.

Kondisi makanan yang dianggap tak layak untuk dikonsumsi menjadi konten kritikan pada pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang sering diunggah di media sosial.

Menu kering yang harusnya bisa dikonsumsi saat waktu berbuka puasa, justru sering ditemukan tidak bisa dimakan, salah satunya seperti yang terjadi di MBG Pekalongan, Jawa Tengah.

Temuan Belatung di Buah Salak

Tengah viral di media sosial video keluhan dari salah satu wali murid SD Negeri 1 Kepatihan, Wiradesa, Kabupaten Pekalongan tentang menu buah salak di MBG untuk hari Selasa, 10 Maret 2026.

“Tuh bu, ada belatungnya lho bu salaknya, banyak banget lagi (belatungnya), Ya Allah,” ujar perekam video, dikutip dari unggahan akun Instagram @wiraedesainfo pada Rabu, 11 Maret 2026.

Video tersebut juga menunjukkan warna buah salak sudah terlihat kecoklatan saat kulitnya dibuka dan belatung hidup yang bergerak.

BGN Pekalongan Langsung Tindak SPPG Terkait

SPPG Kepatihan Wiradesa menjadi pihak yang bertanggung jawab atas makanan tidak layak untuk dikonsumsi tersebut.

Mengintip dari unggahan media sosial resminya, porsi besar pada hari Selasa, 10 Maret 2026 yang disediakan oleh SPPG Kepatihan adalah roti susu, susu, salak, dan tahu kres. Sedangkan untuk porsi menu kecil adalah roti susu, susu, dan salak.

Sampai berita ini diturunkan, belum ada respons dari SPPG Kepatihan, namun Badan Gizi Nasional (BGN) wilayah Pekalongan menyatakan bahwa mereka segera menindaklanjuti laporan.

“Sudah kami tindak lanjuti tadi setelah mendapat kabar,” tulis keterangan BGN Pekalongan.

MBG Bulan Ramadan yang Kerap Vral dan Jadi Sorotan

Selama bulan Ramadan, BGN telah menginstruksikan untuk membagikan menu MBG berupa makanan kering dan disesuaikan dengan penerima manfaat.

Namun, dalam pelaksanaannya sejak 23 Februari 2026, berbagai unggahan viral mengenai menu MBG menuai sorotan karena keluhan tentang akan besarnya jatah harga per porsi hingga mempertanyakan kandungan gizinya.

Keluhan mengenai kesesuaian harga MBG per porsi juga tak hanya dari wali murid, tetapi juga dari pihak sekolah yang beberapa kali viral.

Sejumlah video unggahan dari guru di sekolah juga sempat viral ketika mendapat ‘tugas baru’ untuk memindahkan makanan MBG dari kantong milik SPPG ke plastik lain sebelum dibagikan kepada siswa.

Kantong dari SPPG mendapat perlakuan yang sama seperti ompreng MBG untuk hari-hari sebelumnya, yakni dikembalikan ke pihak dapur dan digunakan keesokan harinya saat pembagian selanjutnya.***