Radarnesia.com – Fenomena meteor hijau yang melintas di langit Yogyakarta sempat menarik perhatian pada Sabtu malam, 11 Juli 2026. Cahaya hijau terang yang terlihat di langit itu ternyata merupakan meteor berukuran besar yang memasuki atmosfer Bumi.
Profesor Astronomi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Thomas Djamaluddin menjelaskan, meteor tersebut pertama kali terdeteksi melintas di atas Laut Jawa sebelum terlihat dari wilayah Bekasi sekitar pukul 21.22.35 WIB. Saat itu, meteor masih berada pada ketinggian yang cukup tinggi sehingga tampak sebagai objek bercahaya putih berukuran relatif kecil.
“Meteor berasal dari batuan antariksa yang mengorbit Matahari. Ketika lintasannya berpapasan dengan orbit Bumi, batuan tersebut memasuki atmosfer dengan kecepatan sangat tinggi. Gesekan dengan atmosfer menyebabkan permukaannya memanas hingga berpijar, sehingga tampak sebagai meteor,” kata Thomas, Selasa, 14 Juli 2026.
Ia menjelaskan, pijaran mulai muncul ketika batuan antariksa memasuki atmosfer pada ketinggian sekitar 120 kilometer di atas permukaan Bumi. Pada tahap ini, material batuan mengalami ablasi (pengikisan) akibat suhu yang sangat tinggi sehingga menghasilkan cahaya terang.
Berdasarkan analisis lintasan, meteor bergerak ke arah tenggara melintasi sebagian wilayah Pulau Jawa. Saat memasuki lapisan atmosfer yang lebih rapat, cahaya meteor semakin terang dan memperlihatkan variasi warna di sejumlah daerah.
Di wilayah Yogyakarta sekitar pukul 21.23.57 WIB, sejumlah warga menyaksikan meteor memancarkan cahaya hijau yang sangat terang. Menurut Thomas, warna hijau tersebut berasal dari unsur magnesium yang terkandung dalam batuan antariksa yang memancarkan cahaya khas ketika terbakar akibat gesekan dengan atmosfer pada suhu sangat tinggi.
Sebelum terlihat di Yogyakarta, meteor juga dilaporkan tampak berwarna biru di Majalengka. Sementara di Nagreg dan Tasikmalaya, objek tersebut terlihat sebagai cahaya terang yang sesekali menerangi awan.
Perbedaan warna merupakan fenomena yang umum terjadi pada meteor karena dipengaruhi komposisi mineral penyusunnya serta kondisi atmosfer yang dilalui.
Sejumlah warga di Cirebon dan Kuningan juga melaporkan mendengar suara dentuman beberapa saat setelah meteor melintas. Suara itu bukan berasal dari ledakan di permukaan, melainkan gelombang kejut (sonic boom) yang terbentuk karena meteor bergerak jauh lebih cepat daripada kecepatan suara.
Menurut BRIN, meteor tersebut terus bergerak ke arah tenggara hingga kehilangan kecepatannya dan diperkirakan berakhir di Samudera Hindia, di selatan Jawa Timur atau Bali.
Fenomena tersebut merupakan peristiwa alam yang menarik sekaligus menjadi pengingat bahwa Bumi terus berinteraksi dengan lingkungan antariksa. Selama meteor habis terbakar di atmosfer atau jatuh di wilayah yang tidak berpenghuni, masyarakat tidak perlu khawatir dan diharapkan memahami fenomena ini secara ilmiah agar tidak mudah terpengaruh informasi yang keliru.





