Radarnesia.com – Harga BBM di Amerika Serikat kembali menjadi sorotan setelah konflik AS-Iran mengganggu pelayaran tanker melalui Selat Hormuz dan mendorong kenaikan harga energi global.

Harga BBM diperkirakan tetap tinggi selama perang berlangsung, sementara Presiden Donald Trump meminta masyarakat Amerika menerima biaya bensin yang lebih mahal sebagai konsekuensi menghadang program nuklir Iran.

Trump menyampaikan sikap tersebut dalam kampanye politik di Garden City, New York, Jumat, ketika kenaikan harga energi mulai menambah tekanan terhadap rumah tangga dan perekonomian Amerika.

Menurut Trump, masyarakat perlu menerima kenaikan harga bensin selama konflik berlangsung karena pemerintah menilai tindakan militer diperlukan untuk mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir.

Data American Automobile Association menunjukkan harga rata-rata bensin Amerika Serikat mencapai sekitar 4,08 dolar AS per galon pada Jumat, atau meningkat 29 persen dibandingkan periode serupa tahun lalu.

Lonjakan tersebut berpotensi memperbesar tekanan inflasi, terutama ketika biaya transportasi dan distribusi barang ikut terdampak kenaikan harga energi serta gangguan jalur pelayaran internasional.

Situasi itu juga menciptakan persoalan politik bagi Trump karena sebelumnya ia berkampanye dengan janji menekan biaya energi yang ditanggung masyarakat Amerika secara luas.

Partai Demokrat berpotensi memanfaatkan dampak perang terhadap perekonomian sebagai isu politik menjelang Pemilu Kongres pada November, terutama jika harga energi terus bertahan tinggi.

Tekanan tidak hanya terlihat pada pasar domestik Amerika, tetapi juga pasar minyak dunia setelah gangguan pelayaran memperbesar kekhawatiran terhadap pasokan dari kawasan Timur Tengah.

Harga minyak mentah berjangka naik sekitar satu dolar AS per barel pada Jumat, sementara Brent mengarah pada kenaikan mingguan sekitar enam persen.

Kontrak West Texas Intermediate atau WTI juga menguat sekitar 5,4 persen, menunjukkan pasar merespons meningkatnya risiko pasokan akibat situasi keamanan di jalur perdagangan minyak strategis tersebut.

Selat Hormuz menjadi perhatian utama karena sebelum perang berlangsung, jalur sempit tersebut digunakan untuk mengangkut sekitar seperlima minyak dunia menuju berbagai pasar internasional.

Namun, aktivitas pelayaran kini turun drastis. Analisis perusahaan pelacak kapal Kpler mencatat hanya dua kapal melewati Selat Hormuz pada Jumat tanpa terlihat pengiriman minyak mentah.

Jumlah tersebut sangat jauh dibandingkan lebih dari 130 kapal yang biasanya melintasi selat tersebut setiap hari sebelum perang, meski sebagian kapal mungkin tidak terdeteksi.

Kapal yang mematikan transponder dapat membuat data pelacakan terlihat lebih rendah daripada kondisi sebenarnya, sehingga tingkat gangguan pelayaran belum sepenuhnya dapat dipastikan.

Iran juga menolak klaim Amerika Serikat mengenai kendali atas Selat Hormuz. Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi menegaskan posisi tersebut melalui platform X.

Gharibabadi menyatakan Selat Hormuz tidak dapat dikuasai hanya melalui pernyataan politik, unggahan media sosial, pengerahan kapal induk, atau perintah dari pihak lain.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengatakan Teheran belum mengambil keputusan untuk kembali berunding dengan Washington terkait penghentian konflik yang terus berlangsung.

Araqchi menyebut Amerika Serikat perlu memenuhi persyaratan Iran mengenai Selat Hormuz agar pelayaran dapat kembali berjalan melalui jalur strategis tersebut secara aman.

Pernyataan itu menunjukkan bahwa persoalan keamanan Selat Hormuz masih menjadi bagian penting dalam ketegangan diplomatik antara Washington dan Teheran hingga kini dan belum mereda.

Risiko terhadap kapal tanker juga meningkat. Abu Dhabi National Oil Company atau ADNOC menyebut dua kapalnya diserang ketika melintasi Selat Hormuz pada Kamis malam.

Kantor berita pemerintah Uni Emirat Arab, WAM, kemudian melaporkan adanya serangan terhadap kapal lain pada Jumat, memperkuat kekhawatiran terhadap keselamatan pelayaran internasional.

Bagi pasar global, kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran karena gangguan berkepanjangan di Selat Hormuz dapat memengaruhi biaya pengiriman, pasokan energi, dan harga berbagai komoditas.

Bagi pasar global, kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran karena gangguan berkepanjangan di Selat Hormuz dapat memengaruhi biaya pengiriman, pasokan energi, dan harga berbagai komoditas.

Perusahaan dan konsumen juga menghadapi ketidakpastian lebih besar apabila konflik terus menghambat distribusi minyak, karena perubahan harga energi dapat merambat ke berbagai sektor ekonomi.

Gangguan tersebut berpotensi memperpanjang tekanan harga minyak apabila distribusi melalui Selat Hormuz tetap terbatas dan pelaku pasar terus memperhitungkan risiko gangguan pasokan.

Bagi konsumen Amerika, kenaikan harga bensin menjadi konsekuensi langsung yang semakin terasa, sementara pemerintah menghadapi tantangan menjaga stabilitas ekonomi di tengah konflik berkepanjangan.

Perkembangan selanjutnya akan sangat bergantung pada keamanan Selat Hormuz, keputusan Iran mengenai negosiasi, serta kemampuan Washington dan Teheran meredakan ketegangan yang memengaruhi pasar energi global.