Scroll untuk baca artikel
Nusantara

Fenomena Upwelling, Ribuan Ikan Siap Panen di Waduk Cengklik Boyolali Mati

×

Fenomena Upwelling, Ribuan Ikan Siap Panen di Waduk Cengklik Boyolali Mati

Sebarkan artikel ini

RADARNESIA.COM – Ribuan ikan jenis nila siap panen di Waduk Cengklik, Kecamatan Ngemplak, Boyolali, Jawa Tengah, mati akibat cuaca ekstrem dan terkena fenomena upwelling.

Fenomena upwelling terjadi sejak Sabtu (9/3/2024) hingga Selasa (12/3/2024) malam. Dampak dari kejadian ini dirasakan oleh semua pembudidaya ikan di Waduk Cengklik.

Ribuan ikan air tawar jenis nila yang mati mendadak tersebut kemudian diambil dari keramba untuk dipindahkan agar tidak makin mencemari air Waduk Cengklik.

Salah satu pengelola jaring apung, Mitro mengatakan, di Waduk Cengklik terdapat 21 orang pemilik keramba apung dan rata-rata setiap orangnya mengalami kerugian sekitar 1 ton ikan siap panen.

Baca Juga:  Gulai Pucuak Ubi Jadi Jamuan TSR IV Dharmasraya di Masjid Jami’ Koto Salak

“Kejadian ikan mati itu sejak Sabtu pagi 9 Maret, tetapi kejadian itu hingga terus berlanjut pada Senin 11 Maret malam. Ada fenomena upwelling atau naiknya massa air dasar waduk ke permukaan, dengan membawa bahan beracun sisa pakan,” katanya saat ditemui Beritasatu.com, Selasa (12/3/2024).

Mitro mengungkapkan, selama 2024 sudah terjadi fenomena itu empat kali. Namun, yang terparah pada bulan ini. Sebab, yang mati adalah ikan siap dipanen.

“Pada saat ini kerugian paling banyak dialami para pemilik jaring apung atau keramba di waduk ini,” ujanya.

Baca Juga:  Seribu Ton Sampah Menumpuk di Kota Yogyakarta, Pemkot Diminta Cepat Bergerak

Para petani ikan Waduk Cengklik hingga saat ini hanya bisa pasrah. Mereka berharap pemerintah memberikan bantuan, paling tidak membantu pakan maupun bibit ikan agar petani ikan dapat kembali melanjutkan budi daya ikan tawar jenis nila merah.

Menurut data dari Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Boyolali, ada tiga kelompok jaring apung yang paling terdampak, yakni kelompok sumber rejeki sebanyak 14 ton ikan yang mati. Kelompok tirto panguripan sebanyak 10 ton, dan kelompok ngudi makmur sebanyak 7 ton ikan.

Akibat fenomena upwelling tersebut diperkirakan para pemilik jaring apung mengalami kerugian jutaan rupiah.

Baca Juga:  Peringati Nuzulul Quran, Pj Bupati Bogor Ajak Amalkan di Kehidupan Sehari-hari

Upwelling merupakan proses di mana air dingin dan kaya nutrisi dari lapisan dalam laut naik ke permukaan. Hal ini menciptakan kondisi yang ideal bagi pertumbuhan plankton dan ikan kecil, sehingga menarik perhatian nelayan untuk menggunakan jaring apung.

Namun, akibat fenomena ini yang tidak dapat diprediksi dengan pasti, para pemilik jaring apung terpaksa merasakan dampak finansial yang cukup besar. Sesuai dengan laporan terbaru, keadaan ini semakin memperumit situasi ekonomi para nelayan dan membutuhkan perhatian serius dari pihak terkait untuk mencari solusi yang tepat guna mengurangi kerugian yang disebabkan oleh fenomena upwelling ini.