Radarnesia.com – Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa investasi di sektor kesehatan merupakan hal yang utama bagi Indonesia untuk memanfaatkan bonus demografi dan mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.

Kualitas kesehatan masyarakat akan menentukan keberhasilan Indonesia menjadi negara berpendapatan tinggi dalam dua dekade mendatang. Pernyataan tersebut disampaikan Menkes saat memberikan sambutan dalam peluncuran Lancet Regional Health – Western Pacific Commission, di Jakarta, Senin (22/6/2026).

Dalam kesempatan itu, Menkes mengaku bangga karena untuk pertama kalinya komisi The Lancet di kawasan regional dipimpin oleh ilmuwan Indonesia. Ia berharap capaian tersebut menjadi langkah awal bagi peneliti Indonesia untuk memimpin komisi The Lancet di tingkat internasional.

“Saya sangat bangga karena ini adalah pertama kali saya mendengar adanya Komisi Lancet yang dipimpin oleh seorang ilmuwan Indonesia. Saya berharap, dalam masa tugas saya, kita dapat melihat komisi Lancet tingkat internasional juga dipimpin oleh peneliti Indonesia,” ujarnya.

Menkes menekankan bahwa kesehatan bukan sekadar isu pelayanan medis, melainkan investasi strategis yang menentukan masa depan pembangunan nasional. Target Indonesia Emas 2045 adalah menjadikan Indonesia sebagai negara berpendapatan tinggi.

Salah satu indikatornya ialah Gross National Income (GNI) per kapita yang harus melampaui USD14.000. Sementara saat ini, GNI per kapita Indonesia masih berada di kisaran USD5.000 sehingga diperlukan lompatan produktivitas nasional. “Kesehatan sangat penting untuk mencapai ambisi Indonesia pada 2045. Indonesia Emas berarti Indonesia juga menjadi negara berpendapatan tinggi,” tambahnya.

Budi menjelaskan, peluang terbesar Indonesia untuk mencapai target tersebut berada pada periode bonus demografi, ketika mayoritas penduduk berada pada usia produktif. Kondisi itu diperkirakan berlangsung hingga sekitar tahun 2030–2034.

Dengan lebih dari 60 persen penduduk berada pada usia produktif, Indonesia memiliki kesempatan emas untuk meningkatkan produktivitas nasional dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi. Namun, ia mengingatkan bahwa kesempatan tersebut tidak akan berlangsung selamanya. Setelah bonus demografi berakhir, jumlah penduduk lanjut usia akan semakin meningkat sehingga beban ekonomi menjadi lebih besar.

“Jika kita gagal memanfaatkan lima sampai sepuluh tahun ke depan, maka itu akan menjadi kesalahan terbesar yang kita wariskan kepada generasi berikutnya,” tegasnya.

Budi menjelaskan banyak negara terjebak dalam kategori negara berpendapatan menengah (middle-income trap) karena gagal meningkatkan produktivitas sebelum memasuki era masyarakat menua. Ketika proporsi penduduk lanjut usia semakin besar, upaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi menjadi jauh lebih sulit.

Ia menilai Indonesia masih memiliki peluang untuk menghindari kondisi tersebut. “Karena itu, pembangunan kesehatan harus ditempatkan sebagai investasi jangka panjang yang mampu menghasilkan sumber daya manusia sehat, produktif, dan berdaya saing,” tegasnya.

Menurut Budi, masyarakat yang sehat akan memiliki produktivitas lebih tinggi sehingga mampu mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Sebaliknya, tanpa kesehatan yang baik, bonus demografi tidak akan memberikan manfaat maksimal bagi pembangunan.

“Momentum ini tidak boleh disia-siakan. Kesehatan harus menjadi fondasi agar Indonesia mampu keluar dari middle-income trap dan mewujudkan Indonesia Emas 2045,” pungkasnya.