RADARNESIA.COM – China memperingatkan Amerika Serikat (AS) bahwa penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) secara berlebihan dalam bidang militer dapat membawa dunia menuju masa depan distopia. Peringatan tersebut disampaikan Kementerian Pertahanan China pada Rabu (11/3/2026).
Juru bicara Kementerian Pertahanan China Jiang Bin seperti dikutip dari laporan The Straits Times mengatakan sejumlah kebijakan militer AS terkait pemanfaatan AI berpotensi menimbulkan risiko serius bagi dunia. Ia menyoroti kebijakan pemerintahan Presiden Donald Trump yang mendorong penggunaan teknologi AI dari perusahaan rintisan tanpa syarat dalam militer.
Menurut Jiang, kekhawatiran muncul jika AI digunakan tanpa batas oleh militer dan diberi pengaruh besar dalam pengambilan keputusan perang.
“Pilihan seperti penerapan AI secara tidak terbatas oleh militer, penggunaan AI sebagai alat untuk melanggar kedaulatan negara lain, membiarkan AI terlalu memengaruhi keputusan perang, serta memberi algoritma kekuasaan menentukan hidup dan mati tidak hanya mengikis batasan etika dan akuntabilitas dalam perang, tetapi juga berisiko memicu perkembangan teknologi yang tidak terkendali,” kata Jiang.
Ia memperingatkan bahwa distopia seperti yang digambarkan dalam film Hollywood “The Terminator” suatu hari dapat menjadi kenyataan.
Peringatan dari China muncul di tengah kebijakan pemerintahan Trump yang mendorong penggunaan tanpa syarat teknologi kecerdasan buatan dari perusahaan rintisan untuk kepentingan militer.
Pentagon mengonfirmasi bahwa sistem Grok milik Elon Musk telah diizinkan digunakan dalam lingkungan rahasia. Pada saat yang sama, lembaga tersebut memasukkan perusahaan AI Anthropic ke dalam daftar hitam setelah menolak mengizinkan model AI mereka, Claude, dipakai untuk pengawasan massal dan sistem senjata otonom yang mematikan.
Perselisihan antara Pentagon dan Anthropic mencuat beberapa hari sebelum serangan militer AS terhadap Iran.
Claude merupakan model AI canggih yang paling luas digunakan Pentagon dan satu-satunya model sejenis yang saat ini beroperasi di sistem rahasia Kementerian Pertahanan AS.
Penolakan Anthropic memicu kemarahan Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth setelah perusahaan itu menegaskan teknologinya tidak boleh digunakan untuk pengawasan massal maupun sistem persenjataan yang sepenuhnya otonom.
Trump kemudian memerintahkan seluruh lembaga federal AS menghentikan penggunaan teknologi milik Anthropic. Beberapa jam kemudian, Hegseth menetapkan perusahaan tersebut sebagai “risiko rantai pasokan terhadap keamanan nasional” dan memerintahkan agar tidak ada kontraktor, pemasok, maupun mitra militer yang melakukan aktivitas komersial dengan Anthropic.
Pentagon sendiri diberikan masa transisi selama enam bulan untuk menghentikan penggunaan teknologi perusahaan tersebut sepenuhnya.







