RADARNESIA.COM – Badan Antariksa Jepang JAXA bersiap untuk fase baru misi Hayabusa2. Wahana antariksa legendaris itu dijadwalkan akan melintas sangat dekat dengan asteroid Torifune pada 5 Juli 2026.

Misi ini tidak hanya bertujuan mempelajari komposisi asteroid, tetapi juga menguji teknologi pengintaian yang kelak bisa digunakan untuk pertahanan Bumi dari ancaman benda langit. Setelah Torifune, Hayabusa2 akan melanjutkan perjalanan panjang menuju target berikutnya, asteroid 1998 KY26 pada 2031.

Hayabusa2 dikenal luas karena keberhasilannya mengambil sampel dari asteroid Ryugu pada 2019 dan mengembalikannya ke Bumi pada 2020. Keberhasilan itu menjadikan Jepang negara pertama yang membawa pulang material dari dua asteroid berbeda, setelah misi Hayabusa pertama ke Itokawa.

Alih-alih dipensiunkan, wahana tersebut mendapat misi perpanjangan. JAXA mengarahkannya untuk mengeksplorasi beberapa asteroid tipe-C dan tipe-S di sabuk utama, termasuk Torifune dan 1998 KY26.

Pertemuan dengan Torifune menjadi tonggak penting pertama dalam fase perpanjangan ini. Jarak lintasan yang sangat dekat akan memungkinkan Hayabusa2 mengambil citra resolusi tinggi dan data spektroskopi tanpa harus mendarat.

Asteroid Torifune adalah objek berbatu yang mengorbit Matahari di wilayah dekat Bumi. Dengan melintasinya, tim ilmuwan JAXA berharap bisa memahami struktur permukaan, bentuk, periode rotasi, dan komposisi mineralnya.

Data itu penting untuk dua alasan. Pertama, secara ilmiah, setiap asteroid memiliki sejarah tata surya yang berbeda. Mempelajari Torifune akan menambah pemahaman tentang bagaimana benda-benda ini terbentuk 4,6 miliar tahun lalu.

Kedua, secara praktis, misi ini menjadi uji coba teknologi pengintaian jarak dekat. “Kami ingin menguji kemampuan navigasi otonom, pencitraan, dan pengukuran jarak pada target yang bergerak cepat dan kecil,” kata pejabat JAXA.

Kemampuan itu krusial dalam skenario pertahanan planet. Jika suatu hari Bumi terancam asteroid berbahaya, manusia perlu wahana yang bisa mendekat, mengamati, dan mengumpulkan data secara akurat sebelum memutuskan langkah mitigasi, seperti defleksi.

Setelah Torifune, Hayabusa2 akan menempuh perjalanan selama lima tahun untuk mencapai target ambisius berikutnya: asteroid 1998 KY26 pada 2031.

Asteroid ini berdiameter hanya sekitar 30 meter, jauh lebih kecil dibanding Ryugu yang berukuran 900 meter. Jika berhasil, 1998 KY26 akan menjadi asteroid terkecil yang pernah dikunjungi wahana antariksa.

Ukuran yang sangat kecil membuat misi ini menantang. Gravitasinya nyaris tidak ada, sehingga Hayabusa2 tidak bisa mengorbit seperti biasa. Wahana harus terbang formasi atau “hover” di dekatnya sambil mengumpulkan data.

Ilmuwan tertarik pada 1998 KY26 karena rotasinya yang sangat cepat, hanya 10 menit per putaran. Kondisi ini dapat memberi petunjuk tentang kohesi material dan bagaimana asteroid kecil bertahan dari gaya sentrifugal.

Misi Hayabusa2 sejalan dengan meningkatnya perhatian global terhadap planetary defense atau pertahanan planet. Insiden meteor Chelyabinsk 2013 dan meningkatnya jumlah objek dekat Bumi yang terdeteksi membuat banyak negara berinvestasi pada riset ini.

NASA telah menguji teknologi defleksi lewat misi DART pada 2022. Sementara itu, JAXA fokus pada pengintaian dan karakterisasi. Kombinasi data dari berbagai misi diharapkan dapat membangun sistem peringatan dini yang lebih baik.

“Hayabusa2 adalah demonstrasi teknologi. Apa yang kami pelajari dari Torifune dan 1998 KY26 akan membantu misi masa depan untuk melindungi Bumi,” jelas peneliti JAXA.

Lintasan dekat Torifune pada 5 Juli 2026 akan menjadi momen pertama Hayabusa2 bertemu target baru pasca-Ryugu. Wahana diperkirakan akan berada pada jarak beberapa kilometer dari asteroid selama beberapa jam, cukup untuk memotret seluruh permukaannya.

Setelah itu, Hayabusa2 akan menggunakan bantuan gravitasi Bumi dan Venus untuk menghemat bahan bakar menuju 1998 KY26. Misi ini dijadwalkan selesai pada awal 2030-an.

Bagi JAXA, Hayabusa2 bukan sekadar misi sains. Ini adalah investasi jangka panjang dalam teknologi, rekayasa, dan keamanan planet. Dari Ryugu ke Torifune, lalu ke 1998 KY26, perjalanan wahana ini terus memperluas batas eksplorasi manusia di tata surya.