Radarnesia.com, Jambi – Di tengah sorotan publik terhadap kualitas pembiayaan perbankan daerah, pengamat menilai kondisi kredit bermasalah harus disikapi proporsional sesuai prinsip industri perbankan. Dinamika kredit bermasalah disebut bagian dari siklus bisnis yang dipengaruhi kondisi ekonomi, karakter debitur, dan ekspansi pembiayaan sektor produktif yang berisiko lebih tinggi dari kredit konsumtif.

Pengamat perbankan Laila Farhat menilai penguatan sistem pengawasan kredit di Bank Jambi sejauh ini berjalan cukup baik dan terus diperbaiki mengikuti tata kelola perbankan modern, Jambi, 19 April 2026.

Ia mengatakan, kualitas aset dan kredit bank daerah tidak lepas dari kondisi ekonomi makro, kemampuan usaha debitur, serta dinamika sektor riil yang menjadi basis pembiayaan. Bank pembangunan daerah memiliki karakteristik berbeda karena porsi besar pembiayaannya menyasar sektor produktif dan UMKM dengan risiko lebih tinggi.

“Karena itu, yang paling penting adalah bagaimana sistem mitigasi risiko dan recovery kredit terus diperkuat,” ujarnya.

Menurut Laila, ukuran kesehatan bank tidak hanya dilihat dari ada tidaknya kredit bermasalah, tetapi dari kemampuan manajemen menjaga kualitas aset, pembentukan CKPN, stabilitas likuiditas, serta kecukupan modal sesuai ketentuan regulator.

Ia menilai penguatan monitoring kredit, evaluasi debitur, dan pembenahan pengawasan internal yang dilakukan Bank Jambi merupakan langkah positif menjaga kualitas pembiayaan agar tetap sehat dan terkendali.

“Dalam praktik perbankan, tidak realistis jika ekspansi kredit besar tanpa risiko. Yang terpenting adalah kontrol risiko berjalan, recovery system diperkuat, dan manajemen tetap menjaga prinsip prudential banking,” katanya.